Ironi Penyaluran Bansos Pemerintah! Jompo di Kawalu Tasikmalaya Luput dari PerhatianĀ 

INILAHTASIK.COM | Di tengah hiruk pikuk penyaluran bantuan sosial oleh pemerintah, seorang wanita renta bernama Mak Jijah (70), warga RT 03 RW 06 Pamipiran, Kelurahan Leuwiliang, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, harus menelan pil pahit kenyataan. Ia tinggal berdua dengan anaknya di sebuah rumah petak berukuran 5×3 meter.

 

Ironi kehidupan begitu terasa bagi Mak Jijah. Saat sebagian masyarakat tengah berbahagia menerima bantuan dari pemerintah, ia hanya bisa menghela napas panjang, menyaksikan tetangga-tetangganya menikmati bantuan pemerintah. Sementara dirinya yang jelas-jelas hidup dalam kondisi serba kekurangan, justru luput dari perhatian.

 

Dalam keterbatasan yang mendera, Mak Jijah hanya bisa pasrah menerima kenyataan. Ia berharap ada pihak yang berbaik hati memperjuangkan haknya untuk mendapatkan bantuan dari pemerintah.

 

Kabar baik datang dari Yayasan Padi Nusantara Sejahtera yang memberikan bantuan berupa beras dan uang tunai kepada Mak Jijah pada hari Rabu, 5 November 2025. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban hidup Mak Jijah dan menjadi secercah harapan di tengah kesulitan yang ia hadapi.

 

“Kami sangat terharu dengan kondisi Mak Jijah. Semoga bantuan ini bisa bermanfaat dan memberikan semangat untuk menjalani hari-hari ke depan,” ujar Yanuar M Rifqi, Perwakilan Yayasan Padi, usai menyerahkan bantuan.

Pihaknya meminta Wali Kota, Kepala Dinas Sosial, para pejabat Pemkot, dan Ketua BAZNAS Kota Tasikmalaya, agar lebih peka terhadap kondisi warganya yang kurang mampu. 

“Kami kembali menemukan fakta, seorang jompo di Kecamatan Kawalu yang layak mendapat bantuan, justru luput dari perhatian. Ini salah satu bukti, bahwa penerima bantuan sosial selama ini belum tepat sasaran,” kata Yanuar.

 

Mak Jijah pun tak kuasa menahan air mata haru saat menerima bantuan tersebut. “Saya sangat berterima kasih kepada Yayasan Padi atas bantuannya. Semoga Allah membalas kebaikan Bapak/Ibu semua,” ucapnya dengan suara bergetar.

 

Kisah Mak Jijah ini menjadi potret buram yang perlu menjadi perhatian bagi pemerintah dan pihak-pihak terkait. Masih banyak masyarakat yang hidup dalam kondisi memprihatinkan dan membutuhkan uluran tangan. 

Diharapkan, pemerintah dapat lebih jeli dan tepat sasaran dalam menyalurkan bantuan agar tidak ada lagi warga yang luput dari perhatian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *