Opini  

Hikmah di Balik Privasi, Ajaran Sufi tentang Menjaga Diri

INILAHTASIK.COM | Para guru sufi selalu mengingatkan jangan terlalu membuka tabir hidupmu kepada orang lain. Karena tidak semua yang memandangmu penuh doa, dan tidak semua telinga yang mendengarmu dipenuhi cinta.

Menyembunyikan sebagian perjalanan hidup adalah bagian dari hikmah, bukan kelemahan. Dalam Islam, menjaga privasi berarti menjaga nikmat, melindungi hati, dan merawat keikhlasan.

1. Menghindari ‘Ain (Pandangan Hasad)

Rasulullah SAW bersabda: “Pandangan hasad itu nyata adanya. Jika ada sesuatu yang mendahului takdir, maka itulah pandangan hasad” (HR. Muslim) 

Terlalu sering menampakkan pencapaian atau kebahagiaan bisa mengundang ‘ain (mata iri). Sufi (Ahli Tasawuf) meyakini bahwa nikmat yang diumbar tanpa doa akan mudah berkurang. Karena itu, lebih aman jika sebagian nikmat hanya disyukuri diam-diam bersama Allah.

2. Tidak Semua Hal Layak Diketahui Orang 

Imam Ali Karramallahu Wajhah berkata: “Rahasiamu adalah tawananmu. Jika engkau membocorkannya, engkau menjadi tawanan rahasiamu” 

Apa yang kita bagikan akan keluar dari genggaman kita. Orang bisa memutarbalikkan, menilai salah, atau bahkan menggunakannya untuk melukai kita. Sufi mengajarkan, yang terbaik adalah menjaga rahasia hidup, kecuali hal hal yang memang wajib diketahui orang lain.

3. Kesederhanaan Membawa Ketenangan

Dalam tasawuf, ada maqam uzlah atau menyepi dari hiruk pikuk dunia untuk membersihkan hati. Bukan berarti mengasingkan diri sepenuhnya, tapi menjaga jarak dari hiruk pikuk yang tidak bermanfaat. 

Privasi adalah bentuk uzlah batin di tengah keramaian. Kita tetap berinteraksi, tapi tidak semua isi hidup ditaruh di hadapan orang. Dari situlah lahir ketenangan.

4. Menghindari Riya’ (Pamer Ibadah/Dunia) 

Allah SWT memperingatkan, “Maka celakalah orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, yang berbuat riya.” (QS. Al-Ma’un: 4-6).

Membuka semua sisi hidup, apalagi ibadah, bisa menggiring hati ke riya’. Amal yang seharusnya murni untuk Allah berubah menjadi tontonan. Para ahli Tasawuf menjaga amal rahasia mereka, karena amal yang tersembunyi lebih besar nilainya di sisi Allah.

5. Tidak Semua Orang Tulus Mendoakanmu 

Kita sering mengira semua orang ikut senang atas kebahagiaan kita. Padahal ada yang tersenyum di luar tapi menyimpan iri di dalam. Para Sufi peka terhadap hal ini, sehingga mereka menjaga nikmat dengan doa, bukan dengan cerita. 

Privasi adalah pagar yang melindungi diri dari keburukan lisan orang lain. Dengan membatasi apa yang kita tunjukkan, kita sedang menjaga keberkahan.

6. Hidup Lebih Ikhlas 

Ikhlas itu ketika amal atau nikmat hanya engkau dan Allah yang tahu. Saat sesuatu diumbar, rasa ingin dipuji manusia sering menyelinap. Seorang guru sufi berkata, Amal yang tersembunyi lebih murni daripada seribu amal yang diumbar. 

Privasi melatih kita untuk ikhlas, sebab hanya Allah yang menyaksikan usaha dan doa kita.

7. Menjaga Barakah Nikmat 

Rasulullah SAW bersabda, “Mintalah pertolongan untuk (meraih) hajatmu dengan menyembunyikannya, sebab setiap orang yang punya nikmat pasti ada yang dengki padanya” (HR. Thabrani) 

Nikmat itu seperti benih. Jika ditanam dalam dalam dan dirawat diam-diam, ia akan tumbuh kuat. Tetapi jika diumbar sejak awal, bisa jadi rusak sebelum berbuah. Privasi adalah cara merawat barakah agar tetap mengalir.

Hidup yang penuh privasi bukan berarti menutup diri, tapi menjaga agar sebagian perjalanan hidup hanya menjadi rahasia antara kita dan Allah. Jangan semua kisahmu jadi tontonan. Biarkan sebagian menjadi doa, sebagian menjadi syukur, dan sebagian hanya Allah yang tahu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *