Opini  

Empat Jalan Mematahkan Rasa Ujub

INILAHTASIK.COM | Manusia diciptakan dengan fitrah ingin dihargai, ingin diakui, dan merasa berarti. Namun fitrah itu bisa berubah menjadi penyakit hati yang berbahaya bila disertai ujub atau perasaan bangga terhadap diri sendiri karena amal yang telah dilakukan. 

Ujub adalah racun yang halus, sering menyelinap dalam hati tanpa disadari. Seseorang bisa tampak khusyu di luar, tapi hatinya merasa lebih baik dari orang lain. Inilah sebabnya para ulama menyebut ujub sebagai penyakit hati paling berbahaya bagi orang saleh. Untuk menyembuhkannya, ada empat hal yang perlu direnungi dengan sungguh-sungguh.

Pertama, Menyadari bahwa taufik itu datang dari Allah. 

Setiap kebaikan yang mampu kita lakukan bukanlah hasil dari kekuatan kita sendiri, tetapi karena izin dan pertolongan Allah. Betapa sering kita ingin berbuat baik namun hati terasa berat, lidah kelu untuk berzikir, tubuh malas untuk beribadah semua itu menunjukkan bahwa tanpa taufik-Nya, kita bukan apa-apa. 

Maka jika suatu hari Allah memudahkan kita bangun malam, berpuasa, bersedekah, atau menolong sesama, janganlah hati berbisik: “Aku hebat.” Sebaliknya, bisikkanlah lirih, “Ya Allah, ini semua karena Engkau telah memilihku untuk kebaikan ini.” Saat seseorang menyadari bahwa amalnya hanyalah karunia, maka tak ada ruang lagi untuk merasa besar, karena yang layak dibesarkan hanyalah Allah SWT.

Kedua, Merenungi besarnya nikmat Allah.

Jika engkau menengok hidupmu, niscaya akan kau dapati nikmat yang tak terhitung jumlahnya. Kesehatan, waktu, iman, keluarga, udara, rizki, dan kesempatan untuk bertaubat. 

Semua itu anugerah yang tak sebanding dengan amal yang kita lakukan. Jika seseorang bersujud seumur hidup sekalipun, belum tentu mampu membalas nikmat satu hembusan napas. 

Maka bagaimana mungkin seseorang merasa bangga dengan amalnya, sedangkan amal itu hanyalah setitik dari lautan nikmat yang Allah berikan. Orang yang benar-benar mengenali nikmat Tuhannya, ia tidak akan sombong, sebab ia tahu amalnya hanyalah ucapan terima kasih yang belum sepadan.

Ketiga, Takut amalnya tidak diterima. 

Rasa takut ini adalah tanda keikhlasan dan kesadaran hati. Orang yang hatinya hidup selalu cemas. Apakah Allah menerima amal ini? Apakah aku berbuat karena-Nya, atau karena ingin dipuji? 

Rasa takut seperti inilah yang menjauhkan diri dari ujub, karena ia sadar bahwa diterimanya amal bukan karena besarnya amal, tapi karena keikhlasan dan rahmat Allah. 

Betapa banyak orang yang beramal hingga tak terhitung, namun tertolak. Dan berapa banyak orang yang amalnya sedikit tapi diterima karena tulus. Maka jangan bangga pada banyaknya amal, karena pada hari itu, bukan banyaknya amal yang menyelamatkan, tapi amal yang diterima oleh Allah Ta’ala.

Keempat, Mengingat dosa-dosa yang telah dilakukan. 

Jika engkau ingin hancur rasa banggamu, ingatlah dosa-dosamu. Ingat masa ketika engkau lalai, saat engkau durhaka, ketika engkau tahu salah tapi tetap melakukannya. Betapa banyak dosa yang kita sembunyikan di balik penampilan saleh. Bila hati jujur menatap masa lalu, air mata akan mengalir dan kesombongan akan runtuh. 

Mengingat dosa bukan untuk berputus asa, tapi agar hati tunduk dan malu di hadapan Allah Ta’ala. Sebab orang yang mengenal dosanya tidak akan berani membanggakan amalnya. la tahu bahwa seandainya bukan karena ampunan dan kasih sayang Allah, niscaya ia telah binasa oleh dosanya sendiri.

Empat jalan ini adalah empat mata air yang dapat membersihkan hati dari ujub. Barang siapa meneguknya, hatinya akan jernih, amalnya tulus, dan hidupnya dipenuhi ketenangan. Sebab ujub hanya tumbuh di hati yang lupa diri, sementara kerendahan hati lahir dari jiwa yang mengenal Tuhannya.

Maka bila suatu hari kita merasa bangga atas ilmu, amal, dan kelebihan, maka berhentilah sejenak dan katakan dalam hati. “Ya Allah, bukan aku yang mampu, Engkaulah yang memberi. Jika bukan karena rahmat-Mu, aku takkan berdiri di hadapan-Mu.” Dengan kalimat itu, ujub akan hancur, dan yang tersisa hanyalah harap, agar Allah menerima setiap langkah kecil kita menuju-Nya.

Sumber: Kitab Tanbihul Ghafilin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *