INILAHTASIK.COM | Fenomena anak-anak berhenti ngaji semakin sering terdengar. Alasannya beragam, ada yang capek karena aktivitas di sekolah, tugas yang menumpuk, kecanduan terhadap gadget, hingga kurangnya dukungan orang tua.
Padahal, belajar agama adalah kebutuhan yang tidak bisa digantikan oleh pendidikan dunia. Yang hilang bukan hanya jadwal ngaji, tapi cahaya dalam hatinya.
Allah SWT memperingatkan:
فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِّنْهُمْ طَائِفَةٌ لِّيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ
“Hendaknya ada sekelompok dari setiap kaum untuk memperdalam ilmu agama.” (QS. At-Taubah: 122)
Ayat ini menjelaskan bahwa belajar agama itu kewajiban, bukan pilihan. Tanpa kecuali, baik anak-anak, pemuda, maupun orang tua, sama-sama diwajibkan untuk Tafakkuh Fid-diin, memahami agama dengan benar.
Rasulullah SAW bersabda:
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةً عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ
“Mencari ilmu itu wajib bagi setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah)
Anak anak kita tidak otomatis paham agama hanya karena lahir dari keluarga Muslim. Yang membuat hati sedih adalah, anak-anak lebih pandai mengikuti pelajaran sekolah, hafal rumus, bahkan jago main game, tapi tidak mengenal Allah, tidak kenal adab, tidak tahu bagaimana shalat yang benar.
Imam Al-Ghazali dalam Kitabnya Ihya Ulumuddin menegaskan:
الْوَلَدُ أَمَانَةُ عِندَ وَالِدَيْهِ
“Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya”
Amanah itu bukan sekadar memberi makan dan menyekolahkan, amanah itu termasuk menuntun anak anak ke majelis ilmu. Banyak orang tua ingin anaknya jadi hebat dunia, tapi lupa menjadikan anaknya kuat agama. Akhirnya anak tumbuh dengan kecerdasan, tapi rapuh imannya.
Pintar gadget, tapi kosong Ruhaninya. Hebat akademik, tapi lemah di hadapan godaan dunia.
Kalau ngaji sudah tidak dianggap penting, maka hati anak perlahan menjadi kering. Yang tadinya rajin membaca Al-Qur’an, kini lebih senang scroll TikTok ketimbang mendatangi majelis ilmu. Yang dulu semangat ke TPQ, kini sibuk game online. Yang dulu antusias belajar doa, kini tenggelam dalam dunia maya.
Padahal ngaji tidak harus setiap hari, tapi harus ada, paling tidak seminggu sekali, atau sebulan dua kali, lebih baik daripada tidak sama sekali. Sebab ilmu agama itu seperti makan, kalau tidak rutin, hati akan kelaparan.
Para Ulama berkata:
مَنْ لَمْ يَذُقُ ذُلُّ التَّعَلُّمِ سَاعَةً بَقِيَ فِي ذُلِّ الْجَهْلِ أَبَدًا
“Siapa yang tidak mau merasakan lelahnya belajar sesaat (mendalami ilmu agama), ia akan merasakan hinanya kebodohan selamanya”
Maka, mari hidupkan kembali semangat ngaji. Ajak anak-anak kita duduk di majelis ilmu.
Rasulullah SAW bersabda:
أحب الأعمال إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meski sedikit” (HR. Bukhari)
Artinya: lebih baik ngaji sedikit tapi rutin daripada tidak sama sekali.
Allah SWT mengingatkan:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ
“Allah mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujādalah: 11)
Ayat ini menegaskan bahwa ilmu agama adalah kemuliaan terbesar bagi seorang hamba baik anak, pemuda, ataupun orang tua. Maka ketika anak berhenti ngaji, maka sesungguhnya ia berhenti menaiki tangga kemuliaan.
Orang tua memiliki peran penting dalam menjaga keluarganya dari siksa api neraka. Termasuk mendorong anak anaknya untuk memperdalam ilmu agama.
Allah SWT berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka” (QS. At-Tahrīm: 6)
Dari ayat tadi Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa “menjaga keluarga dari neraka” berarti mengajarkan mereka ilmu agama dan membimbing mereka ke jalan ketaatan. Bila orang tua justru membiarkan anak berhenti ngaji, itu termasuk kelalaian yang besar.
Maka, dukung mereka, dampingi mereka. Karena masa depan tanpa agama adalah masa depan tanpa arah. Semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga pecinta ilmu, penjaga agama, dan keturunan yang dekat dengan Al-Qur’an.











