INILAHTASIK.COM | Gelombang kasus kekerasan seksual, perundungan (bullying), dan krisis identitas gender yang menerpa kalangan pelajar di Tasikmalaya, memicu refleksi mendalam tentang relevansi identitas kota ini sebagai “Kota Santri”.
Sebuah sarasehan bertajuk “Membangun Benteng Moral Pelajar Tasik: Menggali Realitas dan Kontradiksi Label Kota Santri di Tengah Isu Kekerasan Seksual, Perundungan dan Krisis Identitas Gender Pelajar”, menjadi wadah bagi generasi muda Tasikmalaya untuk menyuarakan gagasan strategis dalam memperkuat fondasi akhlak pelajar.
Sarasehan ini berlangsung di Gedung Dewan Dakwah, Jalan Letnan Harun, pada Minggu, 23 November 2025, dengan menghadirkan tiga tokoh muda sebagai representasi suara perubahan, diantaranya Encep Iik Muzakir, SH, Ketua Umum PD PRIMA DMI Tasikmalaya, tampil sebagai narasumber utama, Muhammad Yasir, Ketua Umum PD PII Tasikmalaya, dan Ikhlas Ulul Albab, Kabid Pengkaderan PD IPM Kota Tasikmalaya, bertindak sebagai pemantik diskusi yang dinamis.
Encep Iik Muzakir dalam paparannya menuturkan, Tasikmalaya memiliki warisan religius yang kaya dengan tradisi kesantrian yang mengakar kuat. Namun, ia tak menampik bahwa perilaku sebagian pelajar saat ini mengindikasikan adanya tantangan serius yang membutuhkan respons kolektif.
Ia menegaskan bahwa tindakan kekerasan, perundungan, penghinaan, dan merendahkan martabat sesama adalah pelanggaran fundamental dalam ajaran Islam.
Mengutip ayat-ayat suci Al-Qur’an, Encep mengingatkan, QS. Al-Hujurat ayat 11, yang melarang keras tindakan merendahkan dan mencela orang lain. QS. Al-Hujurat ayat 12, yang mengecam perilaku ghibah (menggunjing) dan menyamakannya dengan memakan bangkai saudara sendiri. QS. Al-Qalam ayat 10-11, yang mengecam perilaku kasar dan penghinaan.
“Ayat-ayat ini adalah fondasi moral yang tak tergoyahkan. Segala bentuk perundungan, penghinaan, dan kekerasan verbal maupun fisik adalah antitesis dari prinsip Islam. Identitas Kota Santri harus terpancar dari sikap saling menghormati, bukan saling merendahkan,” tegas Encep.
Muhammad Yasir, Ketua PD PII Tasikmalaya, menekankan bahwa krisis moral pelajar adalah masalah sosial kompleks yang memerlukan pendekatan komprehensif. Ia menyerukan agar generasi muda didorong untuk menjadi agen perubahan, dengan mengedukasi tentang moral, meningkatkan literasi hukum, dan berani melawan segala bentuk kekerasan.
“PII berkomitmen untuk mencetak pelajar yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia. Pelajar harus memiliki ruang dan keberanian untuk melaporkan tindakan kekerasan, serta memahami batasan-batasan moral dalam agama dan hukum,” jelas Yasir.
Sementara itu, Ikhlas Ulul Albab, Kabid Pengkaderan PD IPM Kota Tasikmalaya, menyoroti urgensi menciptakan ruang aman bagi pelajar di tengah pusaran tantangan era digital. Ia berpendapat bahwa banyak remaja mengalami kebingungan identitas akibat minimnya pendampingan karakter dan lingkungan yang suportif.
“Tantangan digital menuntut metode pembinaan karakter yang lebih inovatif dan relevan. IPM siap menjadi motor penggerak terciptanya komunitas pelajar yang positif dan saling menguatkan,” ujar Ikhlas.
Sarasehan ini menghasilkan kesepakatan bahwa penguatan moral pelajar Tasikmalaya membutuhkan sinergi dari berbagai elemen masyarakat. PII dan IPM akan fokus pada pembinaan dan pemberdayaan pelajar, sementara PRIMA DMI berkomitmen untuk menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan generasi muda.
Sebagai tindak lanjut, ketiga organisasi ini, PD PRIMA DMI, PD PII, dan PD IPM, akan berkolaborasi menyelenggarakan program pelatihan untuk mencetak agen perubahan di lingkungan pelajar. Program ini akan berfokus pada menciptakan ekosistem sekolah yang aman, bebas dari perundungan, dan berlandaskan nilai-nilai Islami.
Gerakan bersama ini diharapkan dapat meneguhkan kembali identitas Tasikmalaya sebagai Kota Santri, bukan sekadar label sejarah, melainkan nilai-nilai luhur yang tercermin dalam akhlak dan perilaku generasi mudanya.











