INILAHTASIK.COM | Hal yang terkadang dilupakan sebagian orang hari ini adalah peran satu sosok perempuan yang begitu berarti. Perempuan tangguh, yang mengenalkan cinta dan keteladanan.
Di pangkuannya kita belajar bicara, dalam genggamannya kita belajar berjalan. Dengan segala kelembutan yang dia berikan lahirlah harapan, keberanian, dan kejujuran.
Dialah sosok ibu…..
Sosok yang tidak sebatas melahirkan dan membesarkan anak-anaknya. Akan tetapi, mendidiknya dengan kasih sayang supaya kelak menjadi generasi cerdas penerus peradaban.
Sebagus apapun pendidikan formal yang bisa diraih, tidak akan berarti tanpa pendidikan dari sekolah pertama di rumah.
Namun, peran mulia seorang ibu kini teralihkan oleh berbagai tuntutan. Di tengah perekonomian yang sedang carut marut, banyak ibu harus rela membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan.
Para ibu harus keluar rumah untuk membantu perekonomian keluarga. Terkadang sampai harus melintasi negara atau menjadi PMI dan kembali ke pelukan keluarga hanya tinggal nama.
Seperti kasus yang menimpa Pekerja Migran Indonesia asal Garut, IN (44) harus meregang nyawa ditangan kedua temannya. Ia dibunuh sepulang dari Malaysia, dan jasadnya dihanyutkan ke sungai Citarum (Kompas.com, 14/10).
Berangkat dari banyaknya ibu yang harus keluar rumah, akhirnya perhatian dan bimbingan kepada anaknya menjadi berkurang. Ada orangtua mempercayakan pengasuhan kepada pembantu, atau anak-anak dibiarkan belajar dari kecanggihan teknologi. Padahal tak ada yang bisa menggantikan sentuhan kasih dan didikan seorang ibu.
Selain itu ketika pengasuhan dipercayakan kepada orang lain, bisa berbuah kekerasan. Seperti kasus kekerasan yang pernah dialami anak seorang influencer Aghnia Punjabi. Setelah dititipkan kepada pengasuh untuk tugas ke luar kota, sang anak menderita luka memar, wajah dan bagian mata bengkak.
Fakta-fakta di atas adalah bukti dari mandulnya fungsi negara. Negara hari ini hanya berfungsi sebagai regulator pembuat kebijakan yang berpihak pada kepentingan para pemilik modal. Rakyat dalam sistem kapitalisme sekuler dipaksa untuk mandiri dalam mempertahankan hidup. Alhasil, segala cara mereka lakukan tanpa mempedulikan halal dan haram.
Itulah rusaknya sistem buatan manusia. Mereka mengesampingkan aturan Allah dalam bermasyarakat dan bernegara. Aturan Allah hanya berlaku dalam ranah individu saja, terkait ibadah.
Menurut pandangan Islam, peran ibu sangatlah mulia. Rasulullah SAW menegaskan:
“Surga itu di bawah telapak kaki ibu” (HR. ahmad)
Ungkapan tersebut menunjukkan betapa besar peran dan kedudukan seorang ibu. Diantara satu peran utama seorang ibu adalah sebagai madrasah al-uulaa (sekolah pertama bagi anak).
Ibu akan mengajarkan tentang tauhid, akhlak, kasih sayang, dan nilai-nilai kehidupan yang akan menjadi fondasi keimanan dan kepribadiannya kelak.
Untuk menjaga keutuhan peran ibu sebagai ummu madrasah al-uulaa (sekolah pertama bagi anak) dan ummu warabatul bait (pengatur rumah tangga), negara akan melakukan fungsinya dengan baik.
Dalam IsIam, negara berfungsi sebagai raa’in (pengurus) yang mengurus dan menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat, mulai dari sandang, pangan dan papan. Serta kebutuhan dasar lainnya, seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan.
Negara juga bertanggungjawab terhadap para lelaki dalam hal pekerjaan. Negara menjamin ketersediaan dan kemudahan lapangan pekerjaan. Dengan begitu, tak akan ada lagi para ibu yang meninggalkan kewajiban terhadap amanah Allah, karena harus membantu memenuhi kebutuhan rumah tangga.
Maka, Ibu sebagai sekolah pertama bagi anak akan terwujud dalam negara yang menjalankan fungsinya dengan tepat. Negara yang menerapkan hukum-hukum Allah secara kaffah (keseluruhan) tanpa dipisahkan atau dipilih-pilih.
Wallahua’lam.

Oleh : Yayat Rohayati











