INILAHTASIK.COM | Mahasiswa Universitas Siliwangi (Unsil) menggelar seminar edukasi bertajuk “Bekali Siswa Hadapi Era Digital: Edukasi Hoaks dan Misinformasi” di SMP KHZ Musthafa Sukamanah, Sabtu 29 November 2025.
Kegiatan ini dirancang untuk membekali siswa sekolah menengah pertama dengan kemampuan literasi digital, terutama dalam menghadapi maraknya hoaks dan misinformasi di dunia maya.
Pentingnya Edukasi Hoaks di Era Digital
Perkembangan teknologi informasi membuat arus informasi tersebar sangat cepat melalui media sosial dan aplikasi pesan singkat. Namun, kemudahan akses tersebut tidak selalu diiringi kemampuan masyarakat, khususnya remaja, dalam menilai akurasi sebuah informasi. Kondisi inilah yang memicu suburnya hoaks, misinformasi, dan disinformasi.
Edukasi literasi digital menjadi langkah penting untuk membantu siswa mengenali konten menyesatkan, bersikap kritis sebelum membagikan informasi, serta memahami dampak sosial yang bisa muncul dari penyebaran berita palsu. Program seperti ini juga dinilai memperkuat perilaku bertanggung jawab di ruang digital.
Upaya penguatan literasi digital tersebut sejalan dengan beberapa tujuan dalam Sustainable Development Goals (SDGs), di antaranya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas), SDG 5 (Kesetaraan Gender), dan SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Kuat).
Literasi Digital dan SDGs
- SDG 4: Pendidikan Berkualitas
Pendidikan modern menuntut siswa tidak hanya menguasai aspek akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis dan kesadaran digital. Edukasi hoaks membantu siswa memahami cara memverifikasi informasi, menganalisis konten digital, dan menghindari manipulasi informasi. - SDG 5: Kesetaraan Gender
Di ruang digital, hoaks sering digunakan untuk menyebarkan stereotip dan bias gender. Literasi digital memberikan akses setara bagi siswa laki-laki maupun perempuan untuk memahami informasi yang benar dan terlindungi dari konten yang merendahkan atau mendiskriminasi. - SDG 16: Perdamaian, Keadilan, dan Institusi yang Kuat
Hoaks dan disinformasi dapat memicu konflik serta menggerus kepercayaan publik. Melalui edukasi, sekolah berperan menanamkan kesadaran pentingnya kehati-hatian dalam menyebarkan informasi agar stabilitas sosial tetap terjaga.
Materi Relevan dan Antusiasme Siswa
Materi yang disampaikan mahasiswa disusun berdasarkan situasi digital yang akrab dengan keseharian siswa SMP KHZ Musthafa Sukamanah. Pembahasan meliputi pengenalan ciri-ciri hoaks, pentingnya verifikasi informasi, serta contoh kasus misinformasi yang pernah viral. Siswa diajak menganalisis bagaimana sebuah hoaks menyebar dan mengapa masyarakat mudah mempercayainya.
Selain teori, peserta juga mengikuti praktik langsung berupa simulasi pengecekan fakta sederhana. Siswa diminta membandingkan sebuah informasi viral yang tidak memiliki sumber jelas dengan referensi kredibel untuk melihat apakah berita tersebut merupakan hoaks.
Respons siswa sangat positif. Mereka aktif bertanya, berbagi pengalaman mengenai informasi meragukan yang mereka temui di media sosial, hingga berlatih memverifikasi konten secara mandiri. Suasana kelas berubah menjadi diskusi interaktif yang penuh antusiasme. Guru pun mengapresiasi metode penyampaian yang dinilai mudah dipahami dan relevan dengan tantangan digital saat ini.
Kegiatan ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara mahasiswa dan sekolah mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan, informatif, dan berdampak nyata bagi peningkatan literasi digital siswa.











