Kisah Mak Oneng, Cerita Tersembunyi Dibalik Klaim Kesejahteraan Masyarakat Tasikmalaya

INILAHTASIK.COM | Saat panggung seremonial penuh dengan pidato tentang kemajuan kesejahteraan dan angka keberhasilan yang dipamerkan, jauh di sudut Kampung Pangkalan, Kelurahan Karikil, Kecamatan Mangkubumi, sebuah potret kehidupan berjalan dalam kesendirian yang menyakitkan. 

Tak ada sorakan kebanggaan, tak ada kunjungan pejabat, hanya sunyi yang membanjiri rumah tempat Ma Oneng, lansia 70 tahun yang lumpuh, tinggal bersama anaknya yang juga menyandang disabilitas.

Rumah yang mereka huni bukan milik sendiri. Setiap hari, mereka menghadapi hari-hari tanpa jaminan makanan, tanpa perawatan kesehatan yang layak, dan perlindungan sosial yang seharusnya diberikan negara. 

Bantuan yang sampai ke rumah Mak Oneng bukanlah dari pemerintah yang memiliki anggaran miliaran rupiah. Melainkan dari Yayasan Padi Nusantara Sejahtera. Tidak banyak, hanya satu karung beras dan sedikit uang tunai. Sesederhana itu, tapi bagi Mak Oneng, itu seperti nyawa yang menyelamatkan.

Yanuar M. Rifqi, salah satu relawan yayasan, tidak bisa menyembunyikan perasaannya saat melihat kondisi Mak Oneng. “Yang saya lihat sungguh mengiris hati. Beliau lumpuh, tinggal dengan anak yang juga butuh bantuan, tapi tidak ada satupun dukungan dari pemerintah. Ini bukan masalah uang saja, tapi masalah kepedulian yang hilang. Negara punya kewajiban hukum untuk mengurus warga seperti beliau,” ujarnya.

“Pemerintah harus turun ke lapangan, harus melihat langsung, harus bertindak cepat. Jangan hanya duduk di kantor dan melihat data yang tidak lengkap,” tegas Yanuar, usai menyerahkan bantuan, Minggu, 7 Desember 2025.

Yang lebih menyakitkan, Ma Oneng hanya bisa berbaring di tempat tidur, menunggu hari berganti tanpa tahu apakah akan ada yang datang membantunya. Pertanyaan yang mengganggu. Jika seorang lansia lumpuh dan anak disabilitas saja tidak bisa dijangkau oleh sistem bantuan, lalu program-program kesejahteraan itu sebenarnya dibuat untuk siapa?

“Ini bukan lagi masalah administrasi yang bisa disembunyikan dengan alasan “data terlewat”. Ini bukan lagi masalah prosedur yang rumit. Ini adalah soal nyawa manusia yang dibiarkan terlantar tanpa kepastian apapun,” ucapnya.

Yanuar menegaskan bahwa kisah Mak Oneng bukanlah kasus tunggal. Banyak lagi warga Tasikmalaya yang hidup dalam kemiskinan ekstrem yang tak pernah terlihat oleh para pemangku kebijakan. 

“Kami sering menemukan kasus seperti ini. Mereka yang benar benar membutuhkan justru tak tersentuh. Pemerintah harus membuka mata. Jangan tunggu viral di media sosial baru mau bergerak. Negara ada untuk melindungi, bukan hanya hadir saat ada acara seremoni,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *