Tanda-Tanda Hati yang Terbangun dari Kelalaian
INILAHTASIK.COM | فَيَنبَغِي لِلعَاقِلِ أَن يَنتَبِهَ مِنَ الغَفْلَةِ، وَعَلَامَةُ الانتِبَاهِ أَربَعَةُ : أشياء
الأول أن يُدَبِّرَ أُمُورَ الدُّنيَا بِالقَنَاعَةِ وَالتَّسْوِيفِ والثاني أن يُدَبَّرَ أُمُورَ الآخِرَةِ بالحرص والتعجيل والثَّالِثُ أن يُدَبِّرَ أُمُورَ الدِّين بالعلم والاجتهاد والرابع أن يُدِيرَ أُمُورَ الخَلقِ بِالنَّصِيحَةِ وَالمَوَدَّةِ وَالمُدَارَاةِ
“Maka seyogianya bagi orang yang berakal untuk sadar dari kelalaian. Dan tanda-tanda kesadaran itu ada empat,”
* Mengatur urusan dunia dengan qana’ah dan tidak terburu-buru (bersikap cukup, tidak tamak, serta tidak tergesa-gesa dalam urusan dunia).
* Mengatur urusan akhirat dengan semangat dan segera (bersungguh-sungguh serta mempercepat amal kebaikan). Mengatur urusan agama dengan ilmu dan kesungguhan (belajar dengan benar dan beramal dengan tekun).
* Mengelola urusan sesama makhluk dengan nasihat, kasih sayang, dan sikap bijaksana (memberi kebaikan, tulus, serta mampu bermuamalah dengan cara yang lembut).
Dalam kesibukan hidup, kita sering berjalan tanpa sadar, menjalani hari seperti air yang terus mengalir tanpa arah. Padahal, orang yang berakal kata para ulama bukanlah yang sekadar hidup, tetapi yang terjaga dari kelalaian. Hati yang sadar melihat dunia dengan jernih, memahami akhirat dengan serius, memegang agama dengan teguh, dan memperlakukan sesama dengan kasih.
Para bijak mengatakan. Kesadaran sejati memiliki empat tanda. Keempatnya bagaikan cahaya yang menuntun kita kembali pada jalan yang diridai Allah.
1. Menata Urusan Dunia dengan Qana’ah
Ada keindahan dalam merasa cukup. Dunia memang menawarkan banyak hal, tetapi hati yang sadar tahu kapan harus berkata “cukup”, ini sudah cukup untukku. Qana’ah menjaga jiwa dari kerakusan, sedang tidak tergesa-gesa membuat kita lebih tenang menapaki kehidupan. Bukan berarti berhenti berusaha tetapi memahami bahwa yang terbaik sudah Allah tetapkan.
Saat dunia menjadi sekadar ladang, bukan tujuan, hidup terasa lebih ringan.
2. Menyambut Urusan Akhirat dengan Semangat dan Segera
Jika dunia sering membuat kita menunda, akhirat justru harus kita dahulukan. Kebaikan tidak menunggu, pahala tidak datang pada mereka yang ragu. Kesadaran hati terlihat saat seseorang ingin segera memperbaiki shalatnya, menambah amalnya, membersihkan lisannya, meminta maaf kepada orang yang hatinya pernah ia lukai.
Orang yang sadar, tahu bahwa akhirat lebih dekat dari detak jantungnya sendiri.
3. Menguatkan Agama dengan Ilmu dan Kesungguhan
Agama tidak bisa hanya dipegang dengan semangat saja. Ia butuh ilmu agar langkah tidak tersesat, dan butuh kesungguhan agar amal tidak terputus.
Belajar satu ayat, memahami satu hukum, memperbaiki satu kebiasaan semuanya adalah tanda hati yang terbangun. Orang yang sadar selalu ingin menjadi lebih baik hari ini daripada kemarin.
4. Memperlakukan Sesama dengan Nasihat, Kasih Sayang, dan Kearifan
Kesadaran tidak berhenti pada diri sendiri. la memancar kepada orang di sekitar. Keluarga, teman, tetangga, bahkan orang yang kita temui sebentar di perjalanan. Dengan memberi nasihat yang lembut, menyebarkan kasih, dan bersikap bijaksana, hidup kita menjadi sumber kebaikan bagi banyak orang. Sebab hati yang sadar bukan hanya ingin selamat sendirian, ia ingin orang lain ikut merasakan ketenangan yang sama.
Sadar itu Anugerah, Menjaganya adalah Perjuangan. Hidup ini terlalu singkat untuk dijalani dalam keadaan lalai. Setiap napas adalah kesempatan untuk kembali kepada Allah dengan cara yang lebih tenang, lebih lembut, dan lebih bermakna.
Semoga Allah membangunkan hati kita dari tidur panjang kelalaian, dan menjadikan kita hamba-hamba yang sadar dalam urusan dunia, akhirat, agama, dan sesama makhluk.
Karena hati yang terjaga adalah hati yang paling dekat dengan cahaya-Nya.
Referensi: Kitab Durratun Nashihin



