INILAHTASIK.COM | Di sudut rumah sederhana yang sunyi, seorang wanita berusia 63 tahun terbaring lemah di atas kasur. Ia adalah Mak Mis’ah, warga Babakan Karamat Kecamatan Kawalu, yang telah terjebak dalam keterbatasan sejak stroke menyerang tubuhnya beberapa bulan lalu.
Hari-harinya tak lagi dipenuhi aktivitas keseharian, melainkan oleh harapan yang terus memudar. Harapan akan pemulihan penyakit yang di deritanya dan bantuan pemerintah yang seharusnya tiba membantu dirinya dan keluarga.
Di usia yang seharusnya dipenuhi kedamaian, Mak Mis’ah seolah hilang dari peta pendataan dan perawatan sosial. Kelangsungan hidupnya bukan karena perlindungan sistem yang ada, melainkan karena kebaikan hati warga dan orang lain yang masih peduli.
Rasa syukur selalu melekat di hatinya, terutama ketika ada orang yang datang tanpa dikasih tahu. Seperti relawan dari Yayasan Padi Nusantara Sejahtera (PNS).
Pada hari Rabu, 17 Desember 2025, kegelapan yang menyelimuti rumah Mak Mis’ah sedikit terang oleh kehadiran mereka. Relawan menyampaikan bantuan berupa satu karung beras dan uang tunai. Meski tampak sederhana, tapi menjadi titik terang bagi Mak Mis’ah dan keluarga.
“Bantuan ini sangat berarti sekali bagi kami. Terimakasih karena sudah peduli. Semoga bantuan ini membawa keberkahan bagi semua pihak yang sudah membantu,” ucap Mak Mis’ah dengan suara lemah.
Salah satu relawan Yayasan Padi, Yanuar M Rifqi nampak tak bisa menyembunyikan kekecewaannya, sebab lansia renta yang sudah tidak berbuat apa apa, seolah dibiarkan tanpa jaminan sosial dari pemerintah.
Ia menyoroti bahwa banyak warga rentan seperti Mak Mis’ah yang masih terlewat dari perhatian dan bantuan resmi pemerintah. “Mereka yang paling membutuhkan justru sering tidak tercatat dalam sistem. Ini yang membuat kami sedih dan kesal,” ungkapnya.











