Tinggal di Gubuk Bantaran Sungai, Lansia di Kawalu Tasikmalaya Luput dari Bantuan Pemerintah

Relawan Yayasan Padi Yanuar M Rifqi menyerahkan bantuan beras dan uang tunai kepada Mak Sutarsih. Senin siang (26/01/26).

INILAHTASIK.COM | Mak Sutarsih (60), warga Cicariang, Kelurahan Karsamenak, Kecamatan Kawalu, Kota Tasikmalaya, harus menjalani hari tuanya seorang diri dalam kondisi memprihatinkan. Lansia tersebut tinggal di sebuah gubuk sederhana berukuran sekitar 1 x 3 meter yang berdiri di area sempadan Sungai Cikunten.

Gubuk yang ditempati Mak Sutarsih bukanlah rumah layak huni. Bangunan kecil itu berdiri atas swadaya warga sekitar yang merasa iba melihat kondisi hidupnya. Ironisnya, di tengah keterbatasan tersebut, Mak Sutarsih justru luput dari bantuan sosial pemerintah.

Sebagaimana lansia lainnya yang masuk kategori rentan, Mak Sutarsih seharusnya menjadi penerima bantuan. Namun hingga kini, tak satu pun bantuan sosial yang ia terima.

Potret kehidupan Mak Sutarsih menjadi gambaran nyata bagaimana data kesejahteraan yang tersaji di meja para pejabat kerap tak sejalan dengan kondisi riil di lapangan. Klaim keberhasilan penyaluran bantuan sosial seolah runtuh ketika berhadapan dengan kenyataan hidup lansia yang tinggal di gubuk sempit di bantaran sungai.

Warga sekitar mengaku bukan tidak berupaya mengusulkan Mak Sutarsih sebagai penerima bantuan. Namun, usulan demi usulan yang diajukan selalu kandas tanpa alasan yang jelas.

Kondisi ini semakin memprihatinkan lantaran lokasi tempat tinggal Mak Sutarsih diketahui tak jauh dari rumah seorang pejabat kelurahan. Entah keberadaannya yang tak terlihat, atau memang kepekaan sosial yang kian memudar.

Di tengah harapan terhadap pemerintah yang semakin menipis, secercah perhatian datang dari Yayasan Padi Nusantara Sejahtera. Senin siang, 26 Januari 2026, relawan yayasan tersebut menyambangi gubuk kecil Mak Sutarsih di pinggir Sungai Cikunten.

Perlahan para relawan mendekati gubuk tersebut dan mengetuk pintu. Dari dalam keluar seorang perempuan tua yang selama ini berjuang seorang diri. Untuk bertahan hidup, Mak Sutarsih memanfaatkan lahan seadanya dengan menanam sayuran yang kemudian dijual untuk memenuhi kebutuhan harian.

Relawan Yayasan Padi Nusantara Sejahtera, Yanuar M. Rifqi, mengaku tak mampu menyembunyikan kesedihannya saat melihat langsung kondisi Mak Sutarsih.

“Lagi-lagi ini menjadi bukti potret buramnya data penerima bantuan sosial pemerintah di Kota Tasikmalaya. Bagaimana bisa seorang lansia yang hidup seorang diri dan jelas layak menerima bantuan justru tidak masuk dalam data,” ujar Yanuar.

Ia berharap, kisah Mak Sutarsih dapat membuka mata para pemangku kebijakan agar lebih peka dan serius membenahi validitas data bantuan sosial, sehingga bantuan benar-benar tepat sasaran dan menyentuh mereka yang paling membutuhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *