INILAHTASIK.COM | Suasana Minggu pagi di kawasan Sarana Olahraga Dadaha, Kota Tasikmalaya, tampak berbeda dari biasanya. Di area belakang Gedung Kesenian, sekelompok remaja terlihat serius memainkan pedang-pedangan, lengkap dengan gerakan layaknya adegan pertempuran.
Aktivitas tersebut sontak menarik perhatian warga yang melintas. Sekilas, permainan itu mengingatkan pada masa kecil, ketika anak-anak berimajinasi menjadi pendekar atau pahlawan. Namun, bagi para remaja ini, kegiatan tersebut bukan sekadar permainan biasa.
Mereka tergabung dalam komunitas Live Action Role Playing (LARPing) bernama Lyssabel Larping, sebuah komunitas yang menggabungkan seni peran, olahraga, dan kreativitas dalam satu aktivitas.
Salah satu anggota Lyssabel Larping, Aldi, menjelaskan bahwa komunitas tersebut bermula dari ketertarikan anggotanya terhadap dunia cosplay. Dari sana, muncul gagasan untuk mengembangkan kegiatan yang tidak hanya berfokus pada kostum, tetapi juga melibatkan interaksi dan aktivitas fisik.
“Awalnya kami dari komunitas cosplay. Kami berpikir bagaimana cosplay bisa lebih interaktif dan tidak hanya sebatas foto atau pamer kostum. Akhirnya kami mengenal LARPing dan mulai mencoba,” ujar Aldi saat ditemui di sela latihan, Minggu 25 Januari 2026.

Aldi mengatakan, LARPing sudah cukup berkembang di sejumlah daerah lain, seperti Bandung. Di sana, LARPing digemari remaja karena mampu menjadi sarana berekspresi sekaligus olahraga ringan yang menyenangkan.
“Di LARPing ada aturan main yang jelas. Ada sistem match point, endurance, sampai battle royal. Semua punya regulasi masing-masing, jadi tetap aman dan sportif,” kata dia.
Komunitas Lyssabel Larping sendiri baru berjalan sekitar lima bulan. Meski masih terbilang muda, jumlah anggotanya sudah lebih dari 10 orang dan terus bertambah.
Menurut Aldi, ketertarikannya pada LARPing juga dipicu oleh belum adanya komunitas serupa di Kota Tasikmalaya. Ia berharap kehadiran Lyssabel Larping dapat menjadi wadah baru bagi remaja yang ingin menyalurkan minat di bidang seni peran dan aktivitas fisik.
“Selama ini kami rutin latihan setiap hari Minggu di SOR Dadaha. Harapannya, ke depan komunitas ini bisa semakin dikenal dan berkembang, bahkan bisa menyelenggarakan event LARPing sendiri di Tasikmalaya,” ujarnya.
Keberadaan komunitas ini pun diharapkan dapat memperkaya pilihan kegiatan positif bagi generasi muda, sekaligus menjadi ruang kreatif yang memadukan imajinasi, olahraga, dan kebersamaan.











