INILAHTASIK.COM | Permainan pedang yang kerap dianggap sekadar hiburan ternyata memiliki sejarah panjang dan berkembang menjadi aktivitas olahraga serta seni peran yang terstruktur.
Live Action Role Playing (LARP) menjadi salah satu bentuk modern dari tradisi tersebut, yang kini mulai dikenal di kalangan remaja Indonesia, termasuk di Kota Tasikmalaya.
LARP merupakan permainan peran yang dilakukan secara langsung, di mana para pemain memerankan karakter tertentu dan berinteraksi dalam sebuah skenario. Aktivitas ini menggabungkan unsur teater, permainan strategi, dan olahraga fisik.
Anggota komunitas Lyssabel Larping Tasikmalaya, Aldi, menjelaskan bahwa LARP pertama kali berkembang di Eropa pada akhir 1970-an hingga 1980-an. Saat itu, LARP muncul dari komunitas penggemar permainan meja (tabletop role-playing game) seperti Dungeons & Dragons.
“Awalnya LARP itu berkembang di Eropa. Orang-orang ingin memainkan karakter fantasi tidak hanya di atas meja, tapi langsung bergerak dan berinteraksi di dunia nyata,” kata Aldi.
Seiring waktu, LARP berkembang menjadi berbagai aliran. Ada yang menitikberatkan pada cerita dan karakter, ada pula yang fokus pada aspek pertempuran dengan aturan keselamatan yang ketat.
Selain LARP, Aldi menyebut ada beberapa olahraga dan aktivitas serupa yang juga berbasis pertarungan menggunakan senjata tiruan, salah satunya Historical European Martial Arts (HEMA).
“HEMA itu lebih ke seni bela diri Eropa kuno. Gerakannya berdasarkan riset sejarah dari manuskrip abad pertengahan, jadi fokusnya teknik bertarung, bukan roleplay,” ujar Aldi.

Berbeda dengan LARP yang mengedepankan cerita dan karakter, HEMA menuntut ketepatan teknik, kontrol tubuh, serta pemahaman sejarah. Senjata yang digunakan pun umumnya replika logam atau baja tumpul dengan perlengkapan pelindung lengkap.
Selain HEMA, ada pula Boffer, sebuah olahraga pertarungan yang menggunakan senjata berbahan busa atau foam. Boffer dikenal lebih ringan dan aman, sehingga sering dimainkan secara kompetitif dalam format turnamen.
“Kalau Boffer itu biasanya lebih ke olahraga murni. Tidak terlalu banyak cerita, tapi ada sistem poin dan pertandingan. Cocok buat yang suka duel cepat dan fisik,” kata Aldi.
Menurut Aldi, ketiga aktivitas tersebut memiliki kesamaan, yakni sama-sama mengasah ketahanan fisik, strategi, serta kerja sama. Namun, masing-masing memiliki karakter dan tujuan yang berbeda.
“LARP itu unik karena kita bukan hanya bertarung, tapi juga berakting. Kita belajar kerja tim, membangun cerita, sekaligus olahraga,” ujarnya.
Di Indonesia sendiri, minat terhadap LARP dan olahraga sejenis mulai tumbuh seiring meningkatnya ketertarikan generasi muda pada budaya pop, sejarah, dan aktivitas komunitas. Aldi menilai, kehadiran komunitas lokal menjadi faktor penting dalam memperkenalkan aktivitas ini kepada masyarakat luas.
“Banyak yang awalnya mengira ini cuma main-main. Padahal ada sejarah, aturan, dan nilai olahraganya. Kami ingin memperkenalkan itu ke masyarakat, khususnya anak muda,” kata Aldi.
Ia berharap, dengan semakin dikenalnya LARP, HEMA, dan Boffer, akan muncul lebih banyak ruang kreatif sekaligus alternatif olahraga yang sehat dan positif bagi remaja.











