Lyssabel Larping, Ruang Baru Ekspresi dan Kebersamaan Anak Muda

INILAHTASIK.COM | Berawal dari ketertarikan terhadap dunia cosplay dan permainan peran, sekelompok remaja di Kota Tasikmalaya kini menekuni Live Action Role Playing (LARP) sebagai kegiatan komunitas yang memadukan imajinasi, olahraga, dan kebersamaan.

Komunitas yang menamakan diri Lyssabel Larping ini rutin berlatih setiap Minggu pagi di kawasan Sarana Olahraga Dadaha, tepatnya di belakang Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya. Aktivitas mereka kerap menarik perhatian warga karena menampilkan duel pedang dengan kostum dan karakter tertentu.

Salah satu anggota Lyssabel Larping, Aldi, mengatakan bahwa keterlibatannya dalam LARP berawal dari keinginan mencari aktivitas kreatif yang berbeda dari kebanyakan hobi remaja.

“Awalnya cuma hobi dan ketertarikan sama cosplay. Tapi kami ingin ada kegiatan yang lebih aktif, bisa bergerak, olahraga, dan tetap berimajinasi,” ujar Aldi.

Menurut Aldi, LARP memberi ruang bagi remaja untuk mengekspresikan diri tanpa harus terpaku pada satu bentuk kegiatan. Dalam LARP, para anggota tidak hanya belajar teknik bertarung, tetapi juga membangun karakter, kerja sama tim, dan kedisiplinan.

“Di sini kami belajar banyak hal, bukan cuma soal duel. Ada kerja tim, komunikasi, dan kontrol emosi. Semua harus saling menghargai,” kata Aldi.

Meski baru berjalan sekitar lima bulan, Lyssabel Larping mulai menarik minat remaja lain yang penasaran dengan aktivitas tersebut. Aldi mengakui, tantangan terbesar komunitas saat ini adalah mengenalkan LARP kepada masyarakat yang masih menganggapnya sebagai permainan biasa.

“Masih banyak yang mengira ini cuma main pedang-pedangan. Padahal ada aturan, standar keselamatan, dan nilai olahraganya,” ujarnya.

Di sisi lain, keterbatasan fasilitas dan perlengkapan juga menjadi tantangan tersendiri. Namun, hal itu tidak menyurutkan semangat anggota komunitas untuk terus berlatih dan mengembangkan diri.

“Kami memanfaatkan ruang publik yang ada. Yang penting konsisten dulu, bangun komunitasnya,” kata Aldi.

Ke depan, Aldi dan anggota Lyssabel Larping berharap LARP dapat diterima lebih luas sebagai kegiatan positif bagi generasi muda. Ia juga bermimpi suatu saat Kota Tasikmalaya bisa menjadi tuan rumah kegiatan atau event LARP berskala lebih besar.

“Harapannya, LARP bisa berkembang di Tasikmalaya. Kalau komunitasnya sudah kuat, kami ingin bikin event, mungkin skala kota dulu,” ujar Aldi.

Ia menilai, LARP memiliki potensi sebagai alternatif kegiatan remaja yang sehat dan kreatif, sekaligus menjadi ruang berkumpul yang jauh dari aktivitas negatif.

“Kalau anak muda punya wadah yang positif, mereka bisa menyalurkan energinya dengan baik. Itu yang ingin kami bangun lewat Lyssabel Larping,” kata Aldi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *