INILAHTASIK.COM |
Ibu saya pergi dulu.
Ibu tidak perlu bersedih.
Saya memang perlu buku itu.
Tapi apa daya,
saya memilih mengakhiri hidup
agar ibu tidak berjibaku dengan tenaga dan air mata.”
Kalimat ini terlalu dewasa untuk diucapkan anak sepuluh tahun.
Terlalu tenang untuk sebuah perpisahan.
Terlalu rapi untuk sebuah kematian.
Di NTT, seorang anak memilih mati bukan karena putus asa yang hingar-bingar, melainkan karena cinta yang terlalu sunyi. Ia tidak berteriak. Ia tidak mengamuk. Ia justru menghitung beban ibunya dan merasa dirinya adalah salah satunya.
Buku.
Sebuah benda yang di kota disebut alat belajar.
Di sini, ia berubah menjadi harga hidup.
Kita sering berkata,
“Pendidikan adalah jalan keluar dari kemiskinan.”
Tapi kita lupa:
sebelum menjadi jalan keluar,
pendidikan sering kali menjadi pintu yang terkunci dari dalam.
Anak itu tidak mati karena buku.
Ia mati karena sistem yang menjadikan buku sebagai syarat, bukan hak.
Ia mati karena negara terlalu sering berbicara soal generasi emas,
namun lupa menyiapkan meja belajar yang tidak meminta darah.
Yang lebih menyayat:
anak itu tidak menyalahkan siapa pun.
Tidak menyalahkan sekolah.
Tidak menyalahkan guru.
Tidak menyalahkan negara.
Ia justru menyalahkan dirinya sendiri.
“Biar ibu tidak berjibaku dengan tenaga dan air mata.”
Kalimat ini adalah tamparan paling keras bagi kita semua.
Karena di usia sepuluh tahun,
ia sudah belajar satu hal yang seharusnya tidak perlu dipelajari siapa pun:
bahwa hidupnya bisa ditukar dengan kelegaan orang lain.
Di mana kita saat itu?
Mungkin sedang berdebat soal kurikulum.
Mungkin sedang seminar pendidikan dengan sertifikat.
Mungkin sedang membuat konten inspiratif tentang anak-anak hebat Indonesia.
Sementara satu anak memutuskan:
aku pergi saja.
Ia tidak pernah mengenal kata “bunuh diri”.
Ia hanya mengenal kata “mengalah”.
Dan bukankah itu yang selama ini kita ajarkan secara tak sadar?
Mengalah pada keadaan.
Mengalah pada sistem.
Mengalah demi keluarga.
Kita memuji anak patuh.
Kita mengagungkan anak yang tidak merepotkan.
Sampai suatu hari,
kepatuhan itu berubah menjadi penghapusan diri.
Tragedi ini bukan kisah NTT semata.
Ini cermin nasional.
Cermin yang retak,
karena di dalamnya tampak wajah kita—
orang dewasa yang terlalu sibuk mengatur masa depan,
namun lupa menjaga hari ini.
Anak itu tidak butuh pidato.
Tidak butuh beasiswa jangka panjang.
Ia hanya butuh satu hal sederhana:
keyakinan bahwa hidupnya lebih berharga daripada sebuah buku.
Dan kini, setelah semuanya terlambat,
kita menulis berita,
menyalakan lilin,
menghela napas panjang.
Tapi satu pertanyaan tetap menggantung,
lebih berat dari duka mana pun:
Berapa banyak anak lain
yang sedang belajar diam-diam
menghapus dirinya sendiri
agar orang tuanya bisa bernapas sedikit lebih lega?
Jika esai ini membuat kita tidak nyaman,
itu pertanda ia bekerja.
Karena seharusnya,
yang tidak nyaman itu bukan tulisan ini..
melainkan kenyataan
bahwa seorang anak sepuluh tahun
merasa mati adalah bentuk kasih sayang terakhir yang bisa ia berikan.











