INILAHTASIK.COM | Senja bagi Mak Jojoh bukan tentang menikmati hari tua dengan tenang. Di usianya yang menginjak ke-75 tahun, perempuan lansia asal Sindangsari, Kelurahan Karanganyar, Kecamatan Kawalu ini justru akrab dengan rasa cemas yang datang berulang, terutama saat cuaca berubah.
Bukan tanpa sebab. Rumah sederhana yang ia tempati bersama putranya kini berdiri dalam kondisi rapuh. Atapnya telah lama lapuk, kayu penyangga menua, dan setiap hembusan angin kencang selalu menimbulkan kekhawatiran akan bahaya yang mengintai. Bagi Mak Jojoh, hujan tak lagi membawa kesejukan, melainkan kecemasan.
Putranya bekerja sebagai buruh bordir dengan penghasilan yang hanya cukup untuk bertahan hidup. Keterbatasan ekonomi membuat perbaikan rumah tak pernah masuk daftar prioritas. Sementara itu, usia lanjut membuat Mak Jojoh membutuhkan perhatian lebih, baik dari sisi kesehatan maupun kenyamanan tempat tinggal.
Di tengah keterbatasan itu, secercah kepedulian datang dari Yayasan Padi Nusantara Sejahtera. Melalui Program Save Jompo, relawan menyambangi rumah Mak Jojoh dan menyerahkan bantuan berupa beras serta uang tunai. Bantuan yang mungkin sederhana, namun menjadi penanda bahwa Mak Jojoh tidak sepenuhnya sendiri.
Relawan Yayasan Padi Nusantara Sejahtera, Yanuar M Rifqi, mengaku hatinya tergerak setelah melihat langsung kondisi Mak Jojoh.
“Beliau hidup dalam kekhawatiran setiap hari. Bukan karena berlebihan, tapi karena rumahnya memang tidak lagi aman. Kami berharap ada perhatian serius, agar Mak Jojoh bisa menjalani hari tua dengan lebih layak,” ujar Yanuar, Minggu 08 Februari 2026.
Kisah Mak Jojoh adalah potret sunyi tentang lansia yang bertahan di tengah keterbatasan, tanpa banyak tuntutan. Harapannya sederhana, tinggal di rumah yang aman, menjalani hari tua tanpa rasa takut, dan merasa diperhatikan sebagai manusia.











