INILAHTASIK.COM | Suasana berbeda terasa di lingkungan SMPIT-TQ Ma’had Ihya As-Sunnah, Kamis 12 Februari 2026. Ruang-ruang sekolah disulap menjadi arena pameran karya siswa. Beragam hasil observasi, penelitian lapangan hingga gagasan solusi sosial dipresentasikan dalam gelaran Project Based Learning (PBL) yang telah memasuki tahun keempat pelaksanaannya.
Kepala sekolah, Hotim Abdulloh L.C, M.Pd, menuturkan bahwa program ini bukan sekadar agenda seremonial tahunan. PBL dirancang sebagai metode pembelajaran yang mendorong siswa terjun langsung ke lapangan, memadukan teori dengan pengalaman nyata.
“Anak-anak tidak hanya membaca buku atau melihat materi di layar. Mereka kami ajak melihat langsung realitas di masyarakat, supaya pembelajaran lebih bermakna,” ujarnya.
Program tersebut diterapkan mulai dari kelas VII hingga kelas IX dengan pendekatan yang berbeda di tiap jenjang. Untuk kelas VII dan VIII, fokus diarahkan pada penguatan materi melalui observasi langsung. Tahun ini, siswa kelas VII mengangkat kekayaan budaya Tasikmalaya seperti payung geulis, kelom geulis, hingga batik khas Tasik. Para siswa mendatangi sentra kerajinan dan menggali nilai historis serta proses produksinya.
Menurut Hotim, pendekatan ini bertujuan menanamkan rasa cinta terhadap budaya lokal sejak dini. “Kami ingin mereka bukan hanya tahu, tapi juga bangga dan memahami nilai di balik setiap karya budaya,” katanya.
Sementara itu, lanjut dia, siswa kelas VIII mengusung tema budidaya dan kewirausahaan. Mereka melakukan kunjungan ke sejumlah lokasi, di antaranya budidaya ikan gurame di Baregbeg, Kabupaten Ciamis, serta sentra budidaya ikan nila. Dari kegiatan tersebut, siswa mempelajari proses produksi, tantangan usaha, hingga peluang pasar secara langsung.
“Materi di kelas kami aktualisasikan di lapangan. Mereka jadi paham bagaimana teori itu diterapkan dalam dunia usaha,” tambahnya.
Berbeda dengan dua tingkat sebelumnya, kelas IX mendapat tantangan lebih kompleks melalui Proyek Integrasi. Siswa putra melakukan observasi ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) untuk mengkaji persoalan pengelolaan sampah di Kota Tasikmalaya. Mereka menelusuri alur sampah dari TPS hingga TPA, lalu menyusun analisis dan rekomendasi solusi.
Adapun siswa putri melakukan pengamatan di kawasan Dadaha, pusat olahraga dan aktivitas publik. Mereka memetakan persoalan di lapangan, melakukan wawancara dengan masyarakat, menelaah referensi artikel dan jurnal, hingga merumuskan gagasan pemecahan masalah.
Rangkaian kegiatan ini berlangsung selama dua pekan, sejak 2 Februari dan mencapai puncaknya pada 12 Februari 2026 melalui pameran serta presentasi hasil proyek di hadapan guru dan tamu undangan.
Apresiasi datang dari Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan Kota Tasikmalaya, Dani Heryana SPd SSos. Ia menilai pendekatan pembelajaran berbasis proyek tersebut dapat menjadi contoh bagi sekolah lain.
“Sekolah harus menghadirkan pembelajaran yang menyentuh kehidupan nyata. Dengan begitu, siswa akan lebih siap saat terjun ke masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, keseimbangan antara pembelajaran akademik di kelas dan pengalaman sosial di lapangan menjadi kunci pembentukan karakter serta kesiapan peserta didik di masa depan.
Dengan konsistensi pelaksanaan PBL setiap tahun, SMPIT-TQ Ma’had Ihya As-Sunnah diharapkan mampu menjadi salah satu pionir pembelajaran kontekstual di Kota Tasikmalaya.











