TASIK.TV | Pertunjukan teater bertajuk “Jantur” karya Budi Riswandi atau yang akrab disapa Bode hadir sebagai ruang refleksi atas relasi manusia, alam, dan pembangunan di tengah arus modernisasi.
Pementasan ini digelar pada Sabtu 14 Maret 2026 malam di area parkir Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) dan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya, yang disulap menjadi lanskap persawahan.
Bode yang merupakan promovendus Program Doktor Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung mengatakan, “Jantur” tidak sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari upaya menghadirkan kembali makna cerita rakyat sebagai sumber pengetahuan.
“Cerita rakyat bukan sekadar kisah lama yang identik dengan takhayul. Di dalamnya tersimpan nilai-nilai kultural yang menghubungkan manusia dengan alam, yang hari ini mulai terpinggirkan,” ujar Bode.
Ia menjelaskan, “Jantur” berangkat dari Legenda Dadaha yang ditafsirkan ulang sebagai narasi konflik antara masyarakat agraris dengan kekuatan pembangunan yang eksploitatif.
“Dalam pembacaan saya, legenda ini menggambarkan pertarungan antara cara hidup yang selaras dengan alam dan kekuatan ekonomi-politik yang menjadikan alam sebagai objek eksploitasi,” kata dia.
Menurut Bode, fenomena seperti penggusuran kampung adat, kerusakan lingkungan, hingga bencana ekologis merupakan dampak dari pilihan manusia dalam pembangunan.
“Banjir, longsor, dan krisis lingkungan sering dianggap sebagai murka Tuhan. Padahal itu konsekuensi dari cara kita memperlakukan alam,” ucapnya.
Teater sebagai Metode Penelitian
Lebih dari sekadar karya artistik, “Jantur” merupakan bagian dari diseminasi penelitian berbasis seni (art-based research) yang tengah ia jalani dalam studi doktoralnya.
Dalam prosesnya, Legenda Dadaha diperlakukan sebagai data budaya yang diolah melalui pendekatan intermedialitas—menggabungkan teks cerita rakyat, dramaturgi modern, dan realitas sosial kontemporer.
Produksi ini melibatkan lebih dari 100 orang dari berbagai komunitas, seperti UKM Teater 28, Legion 28, dan Sanggar Seni Asta Mekar.
“Teater bagi saya bukan hanya tontonan, tetapi juga cara untuk menghasilkan pengetahuan dan menyampaikan realitas sosial,” ujar Bode.
Panggung Realistis, Penonton Terlibat
Salah satu daya tarik pementasan ini adalah penggunaan ruang yang tidak biasa. Area parkir kampus disulap menjadi sawah yang menggambarkan kehidupan agraris.
Puncak dramatik terjadi ketika alat berat seperti ekskavator dan dump truck dihadirkan langsung ke arena, menghancurkan lanskap yang telah dibangun.
Adegan tersebut menjadi simbol kuat bagaimana pembangunan kerap meruntuhkan ruang hidup masyarakat.
Ratusan penonton dari berbagai kalangan, mulai dari sivitas akademika, pejabat daerah, hingga masyarakat umum, memadati lokasi pementasan.
Dalam pertunjukan ini, batas antara aktor dan penonton dibuat kabur. Penonton tidak hanya menyaksikan, tetapi juga diajak terlibat secara emosional dan reflektif.
Etnoteater dan Kritik Sosial
Promotor disertasi Bode, Prof. Dr. Sumiyadi, M.Hum., menilai “Jantur” sebagai bentuk etnoteater atau teater realitas yang berangkat dari pengalaman sosial masyarakat.
Menurut dia, pertunjukan ini tidak hanya menghadirkan estetika, tetapi juga menjadi medium advokasi kultural bagi kelompok masyarakat yang kerap terpinggirkan oleh pembangunan.
“Jantur menghadirkan suara mereka yang selama ini berada di pinggiran wacana pembangunan,” ujarnya.
Kolaborasi Akademik dan Praktik Seni
Pementasan ini juga menjadi wujud kolaborasi antara dunia akademik dan praktik seni. Selain menempuh studi doktoral di UPI, Bode juga merupakan dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Unsil.
Dukungan dari kedua institusi memungkinkan terwujudnya pementasan berskala besar tersebut.
Melalui “Jantur”, Budi Riswandi menunjukkan bahwa seni pertunjukan dapat menjadi medium penelitian, refleksi sosial, sekaligus kritik terhadap arah pembangunan.
“Teater bisa menjadi ruang untuk mengingatkan kita bahwa hubungan manusia dengan alam dan kebudayaannya tidak bisa dipisahkan,” kata Bode.











