INILAHTASIK.COM | Upaya membangun budaya kesiapsiagaan bencana sejak usia dini terus diperkuat di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Salah satunya melalui implementasi program Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) di sejumlah lembaga Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
Program bertajuk “Edukasi, Sosialisasi, dan Regulasi Implementasi SPAB di PAUD sebagai Upaya Mitigasi Bencana” ini dilaksanakan oleh tim pengabdian kepada masyarakat dari Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya dengan dukungan pendanaan Hibah Riset Muhammadiyah (RisetMu) Batch IX Tahun 2025.
Kegiatan tersebut menyasar guru PAUD, tenaga kependidikan, serta komunitas masyarakat, termasuk kader Posyandu balita, yang memiliki peran penting dalam menanamkan kesadaran serta kesiapsiagaan menghadapi bencana kepada anak sejak usia dini.
Kabupaten Pangandaran dipilih sebagai lokasi pelaksanaan program karena memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi. Secara geografis, wilayah ini berada di pesisir selatan Pulau Jawa yang rawan gempa bumi dan tsunami, serta memiliki potensi bencana lain seperti banjir, tanah longsor, hingga gelombang pasang.
Rangkaian kegiatan program ini meliputi edukasi, pelatihan, hingga simulasi kebencanaan. Kegiatan diawali dengan sosialisasi konsep SPAB untuk memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya integrasi mitigasi bencana dalam sistem pendidikan, khususnya pada jenjang pendidikan anak usia dini.
Selain itu, peserta juga mendapatkan edukasi terkait deteksi dini tumbuh kembang anak berbasis telenursing guna mendukung pemantauan kesehatan anak, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan.
Materi mengenai wilayah berisiko bencana di Kabupaten Pangandaran turut disampaikan kepada peserta agar mereka mampu mengenali potensi bahaya di lingkungan sekitar serta merancang langkah mitigasi yang tepat.
Penelaah Teknis Kebijakan dari BPBD Kabupaten Pangandaran, Muhammad Fikri Azis, S.T., menekankan bahwa pemahaman terhadap risiko bencana merupakan fondasi utama dalam upaya mitigasi di lingkungan pendidikan.
“Peserta diberikan pemahaman mengenai wilayah berisiko bencana di Kabupaten Pangandaran agar dapat mengenali potensi bahaya serta merancang langkah mitigasi yang tepat,” kata Fikri.
Ia menjelaskan, implementasi program SPAB di sekolah dilakukan melalui sejumlah langkah strategis, salah satunya dengan menyusun peta evakuasi bencana yang disesuaikan dengan kondisi riil lingkungan sekolah.
Selain itu, sekolah juga membentuk tim evakuasi dengan pembagian tugas yang jelas untuk menghadapi situasi darurat.
“Sebagai penguatan, disusun pula Standar Operasional Prosedur (SOP) evakuasi bencana. SOP ini menjadi panduan teknis bagi seluruh warga sekolah agar dapat bertindak secara terstruktur dan efektif saat terjadi bencana,” ujarnya.
Integrasi edukasi kebencanaan juga dilakukan dalam proses pembelajaran di kelas melalui penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH) serta penggunaan media pembelajaran berbasis kebencanaan.
Dalam praktiknya, edukasi kepada anak dilakukan dengan metode yang menyenangkan dan interaktif, seperti permainan, cerita bergambar, hingga simulasi sederhana, sehingga materi kebencanaan dapat dipahami sesuai dengan tahap perkembangan anak usia dini.
Sebagai puncak kegiatan, dilaksanakan simulasi bencana yang melibatkan seluruh warga sekolah. Kegiatan ini bertujuan untuk menguji kesiapan sekaligus meningkatkan keterampilan peserta dalam menghadapi situasi darurat secara nyata.
Melalui program ini, implementasi SPAB di PAUD diharapkan dapat berjalan secara optimal dan berkelanjutan, sehingga mampu membentuk generasi yang lebih tangguh dan siap menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya, Pimpinan Daerah Aisyiyah Kabupaten Pangandaran, BPBD Kabupaten Pangandaran, TK ABA, serta Muhammadiyah Disaster Management Centre (MDMC) Kabupaten Pangandaran.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat sinergi antara dunia pendidikan, organisasi masyarakat, dan pemerintah dalam membangun budaya sadar bencana sejak usia dini di wilayah rawan bencana seperti Pangandaran.
Penulis:
Nandhini Hudha Anggarasari, M.Psi., Psikolog
Noer Laelly Barorroh TAG, M.Sc
Estin Nofiyanti, M.Sc











