INILAHTASIK.COM | Menjadi mahasiswa di era sekarang ibarat berdiri di tengah pasar yang ramai. Ada tawaran magang, beasiswa, lomba, proyek sosial, kepanitiaan, kuliah daring, hingga startup kampus.
Semua tampak menggiurkan. Semua mengaku “penting untuk masa depan”. Tapi justru di situlah ujian sesungguhnya bukan hanya soal ambil semua, tapi belajar memilih mana yang benar-benar menjadi diri kita.
Fenomena yang paling banyak terjadi adalah kelelahan batin mahasiswa karena over-commitment. Ikut organisasi A, magang di B, jadi panitia C, sambil tetap mempertahankan IPK sempurna.
Hasilnya? Banyak yang justru kehilangan arah, bukan karena malas, tapi karena terlalu banyak arah. Mereka lupa bahwa menentukan arah tidak sama dengan menumpuk kesibukan.
Di antara hiruk-pikuk pilihan itu, proses yang paling mahal justru sederhana berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri. “Ini benar-benar untukku, atau karena takut ketinggalan?”
Saya sendiri mengalami fase itu. Semester tiga dulu, saya ambil semua peluang. Dua organisasi sekaligus, beberapa kepanitiaan, dan target IPK 4,00.
Hasilnya bukan prestasi, tapi demam dan rasa hampa sampai pada titik merasa lelah sendiri dan mulai bertanya, “sebenarnya saya sedang menuju ke mana?”
Dari situlah saya mulai belajar menyaring. Bukan semua kesempatan baik harus diambil. Banyak tawaran menarik, tapi hanya sedikit yang sesuai dengan panggilan dan kapasitas kita.
Justru di sinilah kedewasaan itu tumbuh ketika mahasiswa berani mengatakan “tidak” pada peluang yang bagus tapi tidak relevan, demi memberi ruang pada yang memang penting.
Menariknya, proses memilih ini tidak pernah instan. Ia melatih keberanian, sekaligus mengajarkan tanggung jawab atas konsekuensi. Saat kita memutuskan fokus di riset ilmiah, kita harus ikhlas melepas kesempatan jadi ketua panitia.
Saat memilih mengembangkan usaha kecil di kampus, kita harus rela tidak ikut lomba debat nasional. Bukan karena yang lain jelek, tapi karena panggilan kita berbeda.
Maka pada akhirnya, di antara banyak pilihan, justru kita belajar satu hal paling penting menentukan arah bukan soal seberapa banyak yang bisa kita raih, tapi seberapa berani kita melepas untuk fokus pada satu hal yang benar-benar berarti bagi versi terbaik dari diri kita.
Mahasiswa yang matang bukan yang paling sibuk, tapi yang paling sadar kemana langkahnya akan membawanya. Karena hidup bukan perlombaan ambil semua peluang, tapi seni memilih yang membuat kita utuh.

Nesya Arini Putri
Mahasiswi UPI Kampus Tasikmalaya – Prodi PGSD
Bendahara II Pengurus LINTAR











