Opini  

Air Mata Penyesalan Hindun Binti Utbah

INILAHTASIK.COM | Angin Uhud masih menyimpan jeritan. Pada tanah yang berlumur darah, tergeletak tubuh seorang pahlawan. Tombaknya patah, matanya terpejam. Tapi luka di dadanya terbuka.

Di hadapan jasad itu, seorang wanita bersorak. Hindun binti Utbah. Perempuan yang pernah menanam kebencian dalam-dalam kepada Islam, karena ayahnya terbunuh di tangan Hamzah bin Abdul Muththalib, paman Rasulullah.

Tapi dendamnya melebihi batas akal manusia. la tak hanya membayar Wahsyi untuk membunuh Hamzah. la datang dengan langkah penuh amarah. la rebahkan diri di dada sang syuhada, lalu mengoyak isi dadanya dengan tangan sendiri.

Darah muncrat. Jantung itu berdegup terakhir kali. Di sela-sela gigi yang mencoba mengunyahnya. Namun Allah menahannya, jantung itu tak bisa ditelan.

Setelah kejadian itu Hindun seolah dihantui rasa bersalah, selalu merasa bahwa hidupnya tidak pernah puas. Barangkali dalam hati ia berkata:

“Dulu aku kira puas. Tapi tidak…Bahkan rasa dendam pun tak bisa menenangkan gelapnya jiwaku”

Tahun berganti, Makkah kini milik Rasulullah. Kaum Quraisy berdesakan, wajah mereka tunduk. Tak ada lagi kesombongan. Tak ada lagi penguasa. Dan Hindun bersembunyi di balik kerudung gelapnya.

Tangannya gemetar. Langkahnya berat, seolah satu-satunya hal yang ia bawa hanyalah dosa-dosa yang bergulung seperti ombak neraka.

la tak tahu, masihkah pantas dirinya menghadap Rasulullah? Masihkah ada ruang untuk seorang wanita yang pernah mengoyak dada pamannya?

Hari itu, Rasulullah menerima bai’at dari para wanita. Beliau duduk dalam cahaya sore, dan berkata dengan lembut,

“Tidak boleh menyekutukan Allah. Tidak mencuri. Tidak berzina. Tidak membunuh anak-anak kalian…”

Hindun mendekat. “Dan tidak menyebar dusta…”

Tiba-tiba tangis pecah. Hindun jatuh berlutut. Seluruh tubuhnya menggigil.

“Wahai Rasulullah… Demi Allah… kami menyusui anak-anak kami, tapi kami juga pernah membunuh mereka. Kami telah berzina, berdusta, dan menyembah berhala. Dan aku… aku… aku mengoyak dada pamanmu dengan tanganku sendiri”

Tangis itu bukan tangis biasa. Itu tangis seorang jiwa yang terbakar rasa bersalah, yang ingin dilumat api agar dosa-dosanya ikut musnah. Semua menahan napas. Lidah mereka kelu. Tapi Rasulullah… memalingkan wajahnya… dan matanya mulai berkaca-kaca. Dengan suara penuh kelembutan, Rasulullah berkata “Sungguh… Allah Maha Pengampun… Maha Penyayang…”

Sejak hari itu, Hindun tak lagi dikenal sebagai wanita yang mengoyak dada Hamzah. la tak lagi berjalan dengan kepala tegak. la tak lagi bicara lantang. la tak lagi menyimpan dendam. la berubah menjadi seorang hamba yang memikul beban tak kasat mata, beban yang hanya bisa ditangisi di atas sajadah.

Setiap malam ia berdiam dalam gelap. Sajadahnya basah bukan karena air wudhu, tapi karena air mata yang tak henti mengalir. Air mata penyesalan, yang tak mampu membasuh jejak tangannya di tubuh syuhada itu.

Ya Allah…Dulu jemari ini pernah mencabik dada seorang kekasih-Mu. Ya Allah, dulu aku pernah tertawa di atas tubuh Hamzah yang bersimbah darah. Tapi kini aku hanya ingin sujud, hingga bumi menyaksikan bahwa aku telah hancur, hancur di hadapan-Mu.

Dan bila pagi menjelang, ia tak pernah angkat suara. la takut, suara itu masih menyimpan kebencian masa lalu. la lebih memilih diam, karena diamnya adalah ratapan, dan ratapannya adalah bentuk paling jujur dari tobat.

Tak ada satu malam pun tanpa tangis, tak ada satu sujud pun tanpa sesal. Hingga orang-orang berkata, “Dulu Hindun adalah wanita yang ditakuti. Kini ia adalah wanita yang paling takut pada Allah”.

Masihkah Kamu Merasa Dosa Itu Tak Terampuni? Hindun pernah mengunyah jantung syuhada, tapi Rasulullah Allah menerima taubatnya, memaafkan, dan tak ada yang lebih besar dari rahmat Allah. Bahkan jantung yang dikoyak pun…bisa dibalut dengan cahaya ampunan.

Sumber : Sirah Nabawiyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *