INILAHTASIK.COM | Adegan pertarungan dalam Live Action Role Playing (LARP) kerap terlihat intens dan penuh aksi. Namun, di balik gerakan pedang dan peran karakter yang dimainkan, keselamatan menjadi aspek utama yang tidak bisa ditawar.
Anggota komunitas Lyssabel Larping Kota Tasikmalaya, Aldi, menegaskan bahwa LARP memiliki standar keselamatan yang harus dipatuhi setiap pemain. Aturan tersebut diterapkan untuk memastikan aktivitas tetap aman dan nyaman bagi seluruh peserta.
“LARP itu memang kelihatannya seperti berkelahi, tapi sebenarnya sangat terkontrol. Ada standar keamanan yang wajib ditaati,” ujar Aldi.
Salah satu standar utama dalam LARP adalah penggunaan senjata yang aman. Menurut Aldi, senjata LARP tidak dibuat dari bahan keras atau tajam, melainkan dari busa (foam) dengan struktur khusus.
“Senjata kami terbuat dari foam dengan inti yang ringan. Tujuannya supaya ketika terkena tubuh, tidak menimbulkan cedera serius,” kata Aldi.
Selain material senjata, kontrol tenaga juga menjadi aturan dasar. Setiap pemain dilarang melakukan serangan dengan kekuatan penuh atau bersifat membahayakan.
“Yang dinilai itu mengenai atau tidak, bukan seberapa keras. Jadi pukulan harus terkontrol,” ujarnya.
Dalam praktiknya, terdapat pula pembatasan area serangan. Aldi menjelaskan bahwa beberapa bagian tubuh, seperti kepala, leher, dan area vital, dilarang menjadi sasaran serangan.
“Area seperti kepala dan leher itu pantang diserang. Kalau ada yang melanggar, langsung ditegur atau dikeluarkan dari permainan,” kata Aldi.
Standar keselamatan lainnya adalah penggunaan perlengkapan pelindung. Meski tidak selalu terlihat mencolok, pemain dianjurkan menggunakan pelindung tambahan, terutama bagi pemula.
“Minimal pakai pelindung tangan, siku, dan lutut. Untuk latihan intens, biasanya ditambah pelindung badan,” ujarnya.
Dalam setiap sesi latihan atau permainan, Lyssabel Larping juga menempatkan marshal atau pengawas. Peran marshal penting untuk memastikan aturan dipatuhi dan menghentikan permainan jika terjadi situasi berbahaya.
“Marshal ini yang mengawasi jalannya permainan. Kalau ada yang terlalu keras atau melanggar aturan, langsung dihentikan,” jelas Aldi.
Tak hanya soal fisik, keselamatan mental dan kenyamanan antar pemain juga menjadi perhatian. Aldi menekankan pentingnya sikap saling menghormati dalam LARP.
“Kami selalu tekankan, ini komunitas. Tidak boleh ada emosi berlebihan atau dendam. Semua harus sportif,” ujarnya.
Aldi menilai, standar keselamatan yang baik justru menjadi fondasi agar LARP dapat berkembang sebagai olahraga dan kegiatan komunitas yang positif.
“Kalau aman, orang akan nyaman ikut. Dari situ komunitas bisa tumbuh dan dikenal lebih luas,” kata Aldi.
Dengan penerapan aturan yang konsisten, ia berharap persepsi masyarakat terhadap LARP dapat berubah, dari sekadar permainan ekstrem menjadi aktivitas yang aman, terstruktur, dan bermanfaat.











