INILAHTASIK.COM | Anak adalah amanah dari Allah SWT. Mereka adalah penerus generasi di keluarga dan juga peradaban. Namun, kondisi anak-anak sekarang begitu memprihatinkan. Mereka harus tersenyum dibalik luka batin yang mendalam. Luka batin yang didapatkan dari orangtua, teman sebaya, tetangga, atau kerabat dekat akibat perlakuan kasar baik verbal maupun fisik.
Perlakuan kasar atau kekerasan terhadap anak memang masih menjadi masalah serius di negeri ini. Masalah ini bukan lagi isu sepele, tetapi sudah menjadi masalah darurat sosial yang harus segera dihentikan.
Pasalnya, orangtua yang seharusnya menjadi pelindung, tempat aman dan ternyaman buat anak, justru menjadi sumber trauma bagi anaknya.
Seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di Purwakarta. Seorang ayah kandung tega menganiaya dua anaknya yang berusia 1,5th dan 4th, hingga harus mendapatkan penanganan medis dan psikolog (detik.com, 5 Juli 2025).
Lain di Purwakarta lain pula di Balikpapan. Viral di medsos, video seorang anak perempuan di Balikpapan yang dimarahi dan sesekali dipukul oleh ibunya sendiri gara-gara gagal mendapat rangking 1 di sekolahnya. Anak tersebut dipaksa jualan untuk menghidupi keluarga, dan tidak boleh melanjutkan sekolah.
Dua fakta di atas hanya sebagian kecil dari fakta miris yang sedang menimpa anak-anak hari ini. Masih banyak disekitar kita anak dengan sejuta luka mengantarkan mereka menjadi individu yang sulit mengendalikan emosi, mengalami penurunan fungsi otak, serta sulit membangun hubungan dengan orang lain.
Bukan suatu hal mustahil maraknya kekerasan pada anak terjadi dalam sistem yang menjauhkan agama dari kehidupan (sekularisme). Karena, mereka menerapkan agama hanya dalam ranah ibadah saja. Sedangkan untuk masalah kehidupan peran agama dinihilkan.
Sistem kehidupan hari ini memaksa individu mencari cara untuk bertahan hidup. Sehingga ketika dihadapkan dengan kondisi sulit mencari kerja, atau harga bahan pokok naik, para orangtua menjadikan anak sebagai pelampiasan.
Selain itu, banyak juga orangtua tidak memahami tugas dan perannya sebagai pendidik, dan pemberi teladan yang baik bagi anak-anaknya.
Dengan sistem yang berorientasi materi, para orangtua hanya memiliki harapan setelah membesarkan dan mendidik anaknya, mereka bisa membantu meringankan perekonomian keluarga.
Kurangnya peran masyarakat yang mengontrol juga menjadi penyebab maraknya kekerasan pada anak. Masyarakat hari ini lebih memilih tidak peduli atau masa bodo dengan kondisi sekitar.
Selain itu, lemahnya sanksi hukum yang ada tak membuat jera para pelaku kekerasan terhadap anak.
Kekerasan pada anak akan meninggalkan jejak luka yang membekas hingga dewasa, dan berpotensi menjadi rantai kekerasan baru.
Agar menjadi generasi tangguh penerus peradaban, mereka butuh kasih bukan luka. Oleh karena itu mari henti kekerasan anak, dengan:
Pertama, para orangtua harus memahami bahwa anak adalah amanah dari Allah SWT yang harus betul-betul dalam pengasuhan dan pendidikannya. Sebab kelak akan dipertanggungjawabkan dihadapanNya.
Rosulullah saw bersabda:
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Muslim)
Hadist ini menjelaskan bahwa anak lahir dalam keadaan suci, dan orang tua memiliki peran penting dalam membentuk kepribadian dan keyakinan anak.
Kedua, ciptakan selalu suasana yang harmonis dalam keluarga. Hal ini penting sekali setiap anggota keluarga untuk memahami hak dan kewajibannya masing-masing, agar tercipta hubungan yang harmonis diantara mereka.
Ketiga, menanamkan Tauhid dan takwa sejak dini. Penanaman akidah sejak dini diharapkan mereka tumbuh dalam ketakwaan, sehingga dalam berkehidupan akan senantiasa mengutamakan konsep halal-haram.
Keempat, memastikan lingkungan yang Islami danaman. Hal ini penting karena sangat besar pengaruhnya terhadap anak-anak.
Orang tua perlu memastikan anak-anak berada di lingkungan rumah, sekolah, atau media digital yang tidak penuh kekerasan verbal atau fisik.
Akan tetapi, lingkungan tersebut hanya akan didapatkan dalam sebuah negara yang mampu menerapkan hukum-hukum Islam secara keseluruhan (kaffah), bukan sebagian (parsial) saja.
Ada tiga pilar dalam penerapan syari’at IsIam:
1. Ketakwaan individu
Takwa merupakan buah dari keimanan seseorang yang telah benar-benar memahami makna dari rukun iman, serta konsekuensi jika melakukan dan meninggalkan dari suatu perbuatan.
2. Kontrol masyarakat
Manusia tempatnya salah dan lupa, oleh karena itu penting adanya aktifitas masyarakat yang saling mengingatkan.
3. Adanya negara yang menerapkan syari’at IsIam
Yang berhak menerapkan hukum-hukum IsIam adalah negara. Maka, walaupun di suatu negeri individunya sudah bertakwa, aktifitas amar ma’ruf nahi munkar berjalan, jika tak ada negara yang menerapkan mustahil syari’at IsIam bisa diterapkan di tengah kehidupan.
Jika semua langkah tersebut bisa diterapkan, in syaa Allah anak-anak akan tumbuh dalam perlindungan kasih sayang, sebagaimana yang dicontohkan baginda Rosulullah Saw.
Wallahu’alam.

Oleh : Yayat Rohayati











