INILAHTASIK.COM | Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis atau P3LP adalah upaya Kementerian Kesehatan RI dalam peningkatan literasi kesehatan jiwa, serta pencegahan dan penanganan dini masalah kesehatan jiwa agar dapat memberikan dukungan awal bagi individu yang mengalami tekanan atau peristiwa traumatis, mencegah dampak buruk lebih lanjut, dan membangun generasi yang sehat jiwa menuju Indonesia Emas 2045.
Hal itu pula yang menjadi alasan sejumlah petugas dari UPTD Puskesmas Salopa Kabupaten Tasikmalaya, menggelar sosialisasi P3LP di SMK PK Nurussalam Salopa pada Rabu 04 Februari 2026.
Dani Handayani, selaku petugas P3LP UPTD Salopa menegaskan bahwa tujuan utama dari sosialisasi ini adalah untuk memberikan dukungan psikologis dasar dan sederhana, bukan untuk menyembuhkan atau menggantikan terapi profesional, melainkan mengurangi stres negatif dan mencegah masalah yang lebih serius.
“Intinya kami mencoba untuk memberikan pemahaman secara umum tentang masalah yang sedang dihadapi para siswa dari assissment yang ada agar luka psikologis mereka cepat hilang,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pelaksanaannya secara teknis mengusung prinsip “Memperhatikan, Mendengarkan, dan Menghubungkan” dengan target implementasi diorientasikan kepada pengelola kesehatan jiwa di Puskesmas, dan akan diterapkan di berbagai setting seperti sekolah, tempat kerja, masyarakat, dan perguruan tinggi, dengan sekolah menengah sebagai target prioritas tahun 2026.
“Saya mengapresiasi sosialisasi ini dan pastinya harus ada tindaklanjut berupa studi kasus sehingga bisa adanya out put dari sejumlah permasalahan yang membekas dari luka psikologis yg mereka rasakan,” terang Dedi ZM, Kepala Sekolah SMK Nurussalam, usai memberikan sambutan.
Dedi mengatakan bahwa di sekolahnya juga sudah memiliki BK (Bimbingan dan Konsuling) sehingga hal-hal yang berkaitan dengan permasalahan pribadi peserta didik selalu ditangani prefesional oleh guru BK, serta menangani masalah hubungan antar pribadi (dengan teman, guru, atau keluarga), mengelola emosi, membangun rasa percaya diri, dan membantu siswa menghadapi tantangan hidup seperti stres atau konflik.
“Terlebih memberikan dukungan khusus kepada siswa yang mengalami kesulitan psikologis atau masalah pribadi, serta mengadakan sesi kelompok untuk membahas topik yang relevan seperti antisipasi bullying atau pengembangan karakter,” tandasnya. (dzm).











