INILAHTASIK.COM | Lucunya, jadi pemimpin itu sering menempatkan kita di dua sisi yang kelihatannya bertolak belakang. Di satu sisi, kamu dituntut untuk kuat, tegas, dan pemberani.
Di sisi lain, kamu juga pelan-pelan diajarkan untuk tetap rendah hati, bahkan ketika orang lain mulai melihatmu lebih dari yang kamu rasa.
Perjalanan itu tidak pernah benar-benar lurus.
Ada fase ketika kamu yakin dengan semua keputusan yang diambil. Tapi ada juga fase ketika semuanya terasa goyah.
Ketika pendapatmu tidak selalu diterima, usahamu tidak selalu terlihat, dan kamu mulai bertanya dalam diam apakah arah yang kamu ambil benar.
Di titik itu, yang paling sering muncul bukan masalahnya, tapi ego.
Ingin lebih didengar. Ingin lebih dianggap.
Ingin semuanya berjalan sesuai cara kita.
Dan di situlah banyak pemimpin mulai kehilangan arah. Bukan karena mereka tidak mampu, tapi karena terlalu yakin pada dirinya sendiri, atau justru terlalu ragu untuk melangkah.
Padahal, yang membuat seseorang bertahan bukan seberapa keras suaranya, tapi seberapa rendah hatinya untuk tetap belajar. Rendah hati membuat kita tetap terbuka, tidak cepat merasa paling benar, dan tidak takut mengakui salah.
Di sisi lain, realitas tidak selalu memberi waktu untuk terus ragu.
Ada keputusan yang harus diambil meskipun tidak semua orang setuju.
Ada langkah yang harus diambil meskipun belum sepenuhnya siap.
Dan di situlah keberanian diuji.
Bukan keberanian yang tanpa takut, tapi yang tetap berjalan sambil membawa keraguan itu sendiri.
Di titik ini, menjadi jelas bahwa rendah hati dan pemberani bukan dua hal yang bertentangan. Justru keduanya adalah keseimbangan yang harus dijaga.
Terlalu percaya diri tanpa rendah hati membuat seseorang kehilangan arah.
Terlalu rendah hati tanpa keberanian membuat seseorang tidak pernah benar-benar melangkah.
Di balik semua itu, ada banyak proses yang tidak terlihat. Lelah yang disimpan sendiri, keputusan yang diambil dengan ragu, dan tanggung jawab yang tidak selalu bisa dibagi.
Dan mungkin, dari semua perjalanan itu, yang paling penting bukan seberapa jauh kita melangkah, tapi apakah kita tetap sadar diri saat berada di atas, dan tetap berani saat berada di bawah.
Tetap rendah hati dan jadilah pemberani,
di waktu yang bersamaan.

Oleh: Neneng Siti Fachirah
Mahasiswi UPI Kampus Tasikmalaya – Prodi PGSD
Ketua Pengawas LINTAR











