INILAHTASIK.COM | Info terkini dari Kementerian Kesehatan Gaza menyatakan bahwa sejak 7 Oktober 2023 jumlah korban tewas mencapai 61.000 jiwa dan 150.671 alami luka-luka. Sebagian besar korban adalah perempuan dan anak-anak. Data ini belum termasuk korban kebrutalan Israel di jalur Gaza yang masih tertimbun reruntuhan bangunan. Hal ini dikarenakan sulitnya tim SAR menjangkau posisi mereka berada.
Genosida membabibuta, wilayah Gaza porak-poranda dibuatnya. Bangunan rumah warga dan fasilitas umum menjadi sasaran keji mereka.
Tak cukup sampai disitu, mereka kini menciptakan genosida gaya baru dengan membuat warga Gaza kelaparan.
Zionis Yahudi telah memblokade truk pembawa bantuan untuk warga Gaza. Alhasil, blokade tersebut mengakibatkan warga Gaza alami bencana kelaparan hingga kematian.
Tidak hanya memblokade bantuan, Zionis pun menghancurkan truk-truk pengangkut bantuan beserta isinya. Parahnya, mereka juga menyasar warga Gaza yang berkerumun mengantri makanan.
Kita bisa menyaksikan di media sosial, beberapa warga Gaza harus syahid ketika makanan sudah di tangan tapi belum sempat dikonsumsi. Dikabarkan sejak Mei 2025 ada lebih dari 1.060 orang tewas dan 7.200 orang terluka saat mencoba mengantri makanan.
Bencana kelaparan genosida gaya baru ini seharusnya mendapat kecaman seluruh umat manusia. Akan tetapi, hari ini dunia lebih banyak diam. Negeri muslim yang bertetangga pun seolah buta dan tuli dengan penderitaan saudaranya di Gaza.
Rosulullah saw bersabda:
“Perumpamaan orang-orang beriman dlam hal saling mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya)” (HR. Bukhari Muslim).
Hadist ini menegaskan bahwa persaudaraan sesama muslim haruslah kuat, sebagaimana rangkaian satu tubuh. Sesama muslim harus saling peduli dan membantu. Tak memandang golongan dan warna kulit.
Akan tetapi karena sekat nasionalisme yang kuat, banyak penguasa muslim memilih diam dan masih bisa tertidur nyenyak diatas jeritan kelaparan saudaranya.
Padahal Rosulullah saw juga bersabda:
“Bukanlah Mukmin orang yang tidur dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangga di sampingnya kelaparan, padahal ia tahu” (HR. Abu Ya’la).
Dengan hadist ini Rosulullah saw mengecam bagi orang-orang yang mengaku beriman, sementara dia membiarkan tetangganya kelaparan.
Kaum muslim tak akan mampu menolong Gaza sepenuhnya, selama sekat-sekat nasionalisme masih kuat melekat dibenak mereka.
Oleh karena itu, saatnya umat Islam bersatu. Bersatu dalam satu ikatan yang kuat yakni ikatan akidah. Dengan ikatan akidah dan ada dalam satu komando kepemimpinan Islam, yakni Daulah khilafah Islamiyah, kita bisa membebaskan penderitaan warga Gaza.
Hal ini telah terbukti sejak Daulah pertama berdiri di Madinah sampai kekhilafahan Turki Utsmani, ikatan akidah mampu menjadi pemersatu umat Islam selama tiga belas abad.
Kisah masyhur pada masa khilafah Abasiah, pada masa kekhalifahan Al Mu’tasim billah. Ada seorang budak muslimah yang dilecehkan bangsa Romawi, dengan mengaitkan pakaian bawahnya ke paku hingga auratnya tersingkap. Sang wanita pun berteriak meminta pertolongan Sang khalifah. Ketika berita itu sampai kepada Al Mu’tasim billah beliau langsung menerjunkan puluhan ribu pasukan untuk menyerang bangsa Romawi tersebut.
Dari kisah tersebut kita bisa melihat jika akidah dijadikan satu-satunya ikatan, kedzoliman terhadap satu jiwa saja langsung ditindak tegas oleh penguasa. Apalagi jika kedzoliman sudah menimpa banyak jiwa dan itu tanggung jawab kita.
Oleh karena itu, boykot bahkan donasi tak bisa mengakhiri penderitaan saudara di Gaza. Kaum Muslim harus bersatu melawan dan mengusir Zionis Yahudi. Melawan dan mengusirnya hanya dengan jihad dibawah komando khalifah.
Wallahua’lam.

Oleh: Yayat Rohayati











