Bicara Geng Motor, PMII: Gejala Sosial yang Harus Dituntaskan

Ketika mendapati anggota geng motor di lingkungan, saking geramnya masyarakat pun berbuat dengan caranya sendiri yakni dengan main hakim sendiri.

Bicara Geng Motor, PMII: Gejala Sosial yang Harus Dituntaskan
Heru Muchtar

KOTA TASIK, INILAHTASIK.COM | Kota Tasikmalaya merupakan daerah yang mempunyai julukan kota santri. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya pondok pesantren yang tersebar di beberapa wilayah di Kota Tasikmalaya.

Namun, julukan tersebut tidak berbanding lurus dengan realitas sosialnya, lantaran sering kali terjadi tindakan kekerasan, tindakan penganiayaan dan masih banyak tindakan melawan hukum lainnya.  

Belakangan ini Kota Tasikmalaya kembali dikejutkan dengan adanya peristiwa penusukan kepada masyarakat, perusakan dagangan warga hingga perusakan rumah warga oleh sekelompok berandalan motor atau yang dikenal dengan sebutan sebut geng motor.

Kejadian itu sebetulnya bukan pertama kali terjadi. Tindakan geng motor yang membabi buta dalam melakukan aksi brutalnya sering kali menyerang kepada masyarakat yang sedang melintas di jalanan.

Baru-baru ini, ada berita dan video viral di media sosial yang memperlihatkan penyerangan geng motor ke warga, dan hal itu tentu saja menimbulkan rasa tidak aman dan ketidaknyamanan.

Ketika mendapati anggota geng motor di lingkungan, saking geramnya masyarakat pun berbuat dengan caranya sendiri yakni dengan main hakim sendiri.

Menyikapi kejadian tersebut, Kapolres Tasikmalaya Kota disebut-sebut mengambil tindakan tegas untuk tembak di tempat. Namun, sebagian kalangan menilai langkah tersebut kurang tepat karena bersiko hilangnya nyawa orang/masyarakat.

Berkaitan dengan itu, Pengurus Cabang PMII Kota Tasikmalaya angkat bicara. Menurut Heru, alangkah baiknya pihak terkait mencari alternatif lain dalam mengambil tindakan yang sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP).

Maka apapun kebutuhannya, lanjut Heru, jika melakukan penembakan terhadap civil society tidak bisa dibenarkan.

“Namun di sini pemerintah pun jangan menutup telinga juga mata dengan keadaan Kota Tasikmalaya yang darurat geng motor. Pemerintah harus mengambil tindakan cepat dan tepat melakukan hubungan kolektif dengan pihak Polri, TNI, dan dinas-dinas terkait. Semisal, Dinas Pendidian, Dinas Pemuda dan Olahraga, Dinas Sosial dan Kesbangpol dalam upaya untuk merumuskan langkah yang solutif dan kongkrit,” tegasnya, Rabu 09 November 2022.

Heru mengungkapkan, jika dilihat, anggota geng motor merupakan para remaja yang rata-rata usia SMP sampai SMA. Maka, menjadi peran Dinas Pendidikan yang harus memberikan edukasi dengan cara road show ke setiap sekolah-sekolah, karena mereka merupakan kalangan remaja yang masih dalam masa pencarian jati diri sehingga perlu diarahkan dan diselamatkan masa depannya.

“Karena tak sedikit remaja hobi dunia otomotif, namun sering kali melakukan perkelahian. Oleh karena itu, Dinas Pemuda dan Olahraga punya peran penting. Pertama, harus mengakomodir dulu kalangan remaja yang memiliki hobi dunia otomotif atau beladiri. Di sinilah mereka harus disupport dengan cara diarahkan dan diasah agar potensi yang dimilikinya bisa berkembang,” papar Heru.

Menurutnya, peristiwa geng motor merupakan gejala sosial yang terjadi masyarakat, sehingga hal itu menjadi persoalan serius yang harus dituntaskan. Remaja yang hari ini ikut bergabung ke dalam geng motor sebagai dampak dari adanya interaksi sosial yang salah.

Dengan begitu, perlu adanya peran Dinas Sosial seperti mengadakan bakti sosial dengan kalangan muda yang melibatkan karang taruna di dalamnya.

Kemudian, sambung Heru, perlu adanya edukasi dengan cara mengadakan acara seminar perihal penyadaran hukum sejak dini dengan tujuan agar mereka paham tindakan ereka yang berdampak terhadap pelanggaran hukum.

“Terus berikan juga pemahaman kepada anak usia SMP dan SMA mengenai hidup sehat tanpa narkoba. Karena narkoba menjadi salah satu penyebab yang dapat mengakibatkan para remaja melakukan tidak melawan hukum. Persoalan geng motor menjadi PR besar bagi pemerintah.” ucapnya.

Ia menyebut bahwa Pemerintah Kota Tasikmalaya saat ini menggunakan APBD lebih memprioritaskan ke pembangunan proyek infrastruktur agar telihat estetik.

“Tapi, hal lebih krusial mengenai pembangunan suprastruktur tidak dimaksimalkan, padahal membina generasi muda itu sangat penting . Percuma kotanya terlihat rapih, kalau pola generasi mudanya rapuh. Percuma kotanya cantik, kalau generasi mudanya sakit,” tandas Heru.