INILAHTASIK.COM | Di tengah derasnya arus informasi digital dan maraknya konten viral yang belum terverifikasi, kemampuan pelajar dalam membedakan fakta dan manipulasi informasi menjadi isu mendesak.
Berdasarkan observasi kelompok mahasiswa Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Siliwangi di kelas X TKJ 2 SMKN Manonjaya, hoaks masih menjadi ancaman serius bagi remaja yang aktif bermedia sosial.
Perkembangan teknologi membuat informasi menyebar dengan sangat cepat, namun tidak selalu diiringi kemampuan pengguna untuk menyaring kebenarannya. Hal tersebut mendorong para mahasiswa melakukan pengabdian masyarakat bertema “Literasi Digital:
Penguatan Pengetahuan tentang Hoaks dan Misinformasi” di SMKN Manonjaya. Program ini bertujuan menilai kesiapan siswa dalam menghadapi banjir informasi, sekaligus menguatkan kemampuan berpikir kritis agar mereka tidak mudah terjebak dalam konten menyesatkan.
Kegiatan literasi digital ini juga dikaitkan dengan sejumlah Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Penguatan kecakapan memilah informasi sejalan dengan SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Pemberian pemahaman yang setara kepada seluruh siswa mencerminkan SDG 5 tentang Kesetaraan Gender. Sementara itu, peningkatan kesadaran akan bahaya hoaks turut mendukung SDG 16 yang mendorong lingkungan informasi yang transparan dan berintegritas.
Kegiatan pengabdian berlangsung pada Jumat (28/11/2025). Sebelum pelaksanaan, mahasiswa menyusun kepanitiaan kecil yang terdiri dari ketua, sekretaris, bendahara, tim publikasi dan dokumentasi, moderator, dua MC, serta dua pemateri. Meski sempat mengalami kendala perangkat, seluruh rangkaian kegiatan berjalan tertib.
Acara dibuka oleh MC dan dilanjutkan moderator yang menggali pengalaman siswa terkait informasi palsu yang sering mereka jumpai. Respon siswa cukup antusias. Mereka menyampaikan berbagai contoh hoaks yang beredar di media sosial sehingga suasana kelas menjadi lebih interaktif.
Materi inti kemudian disampaikan oleh pemateri, meliputi pengertian hoaks dan misinformasi, jenis-jenis misinformasi, ciri-ciri berita palsu, serta teknik dasar verifikasi informasi. Penjelasan dilengkapi contoh aktual yang relevan dengan kehidupan siswa. Selama pemaparan berlangsung, peserta aktif berdiskusi, bertanya, dan menanggapi berbagai kasus yang disampaikan.
Pada sesi penutup, siswa diminta menyimpulkan poin-poin penting dari materi. Acara kemudian ditutup oleh MC dan dilanjutkan dengan sesi dokumentasi. Secara keseluruhan, kegiatan mendapat respon positif dari siswa kelas X TKJ 2.
Melalui kegiatan ini, siswa menunjukkan peningkatan pemahaman dalam membedakan informasi faktual dan palsu, terlihat dari kemampuan mereka mengidentifikasi ciri-ciri hoaks berdasarkan contoh yang dipaparkan. Program ini turut meningkatkan kesadaran literasi digital serta membentuk sikap lebih selektif dalam menggunakan media sosial.
“Setelah mengikuti materi tentang hoaks dan misinformasi, saya mendapat ilmu baru dan sekarang bisa membedakan mana informasi yang benar dan mana yang palsu. Harapannya ke depan bisa lebih baik lagi,” ujar ketua kelas X TKJ 2.
Pengabdian bertema literasi digital ini diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan dengan materi yang lebih variatif. Dengan demikian, pelajar semakin terlatih dalam menghadapi tantangan informasi di era digital yang dinamis.
Penulis:
- Muhammad Rafly Syahputra
- Melis Saniatul Iqda
- Pirani Radiana Nuraini
- Rizky Muhammad Asy-Syafiq
- Tasya Nadila
- Reva Ghania
- Mohammad Ghilman Faza
- Siti Nur Salamah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Pendidikan Sejarah, Universitas Siliwangi












