Opini  

Cerewetmu, Bentuk Cinta yang Mendalam

INILAHTASIK.COM | Di mata  anak, label cerewet tersemat pada ibu yang telah melahirkan, mengurus dan mendidiknya. Kenapa? Karena setiap kata yang keluar dari mulut seorang ibu baik itu larangan, teguran, atau mungkin nasihat sering dilakukan berulang. Sehingga membuat si anak lelah mendengarnya. 

Padahal cerewetnya seorang ibu bukan cerewet yang tak beralasan. Misal, anak ijin main sang ibu pasti detail mananyakan pergi kemana, sama siapa, pulang jam berapa dan terakhir doa, hati-hati di jalan.

Jika telat pulang dari sekolah atau kegiatan keluar rumah lainnya, ibu akan terus menghubungi sang anak, baik melalui chat atau  langsung calling. Selain itu, ibu pun selalu cerewet ketika anaknya tak bersegera jika dipanggil atau disuruh mengerjakan sesuatu. Terlebih masalah mengingatkan waktu sholat. 

Perlu anak-anak ketahui, hal-hal di atas tentu dikarenakan cinta ibu yang begitu mendalam terhadap anaknya. Ibu sangat memikirkan anaknya meski terkadang sang anak tak memikirkan dirinya sendiri. 

Dalam IsIam Ibu memegang peran yang mulia yakni madrasah al-uulaa. Dimana Ibu merupakan pendidik pertama bagi anaknya, mulai dari akidah, akhlak, dan berbagai ilmu dalam menjalani kehidupan. Tentunya yang sesuai dengan syariatNya. 

Peran Ibu sebagai madrasah al-uulaa dalam sistem kapitalisme sekuler adalah sebuah tantangan besar. Sebab, sistem ini berorientasi materi dan kepuasan jasadiyah. Dalam mendapatkan materi dan kepuasan jasadiyah tersebut sudah tak lagi mempedulikan halal haram. 

Alhasil effort ibu mendidik anak di dalam rumah terasa sia-sia. Pasalnya ketika anak keluar rumah untuk sekolah, main, atau kegiatan lainnya, mereka akan berhadapan dengan kehidupan yang bebas, tanpa ada ketakutan terhadap dosa dan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. 

Kita bisa menyaksikan banyak fenomena miris terjadi di sekeliling kita. Mulai dari pergaulan bebas,  tawuran, narkoba, judol, pinjol, hingga menghilangkan nyawa orang lain.

Seperti di Sumatera Utara, polisi berhasil mengungkap 150 anak tersangka pelaku narkoba (detiknews.com, 22/10). Ada lagi di Bengkulu, demi sabu dan judol seorang remaja menikam temannya (metronews.com, 13/11).

Anak adalah amanah terbesar dari Allah yang harus dijaga dengan baik. Dengan fakta miris tersebut maka tak heran jika  Ibu begitu cerewet. Sebab, ia tak mau anaknya terjerumus dalam kemaksiatan, mendapat murka Allah, dan jauh dari RahmatNya. 

Allah SWT berfirman:

” Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka, yang bahan bakarnya manusia dan batu” ( TQS. At-Tahrim: 6).

Bentuk penjagaan yang dimaksud dari ayat diatas adalah dengan melaksanakan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Oleh karena itu seorang ibu yang beriman terhadap ayat tersebut, akan berusaha mendidik anaknya untuk menjadi individu yang taat. 

Dalam IsIam ketaatan akan terbentuk dan terjaga jika terdapat ketakwaan individu. Islam mendorong setiap individu untuk bertakwa kepada Allah, dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya.

Dengan ketakwaan individu setiap Ibu akan menjalankan perannya dengan baik. Begitu juga dengan anak, mereka akan menyadari kewajibannya baik sebagai hamba Allah juga sebagai anak. 

Selain itu, adanya kontrol masyarakat yang menjadi tameng ketakwaan individu. Masyarakat dalam islam adalah sekumpulan individu yang memiliki perasaan, pemikiran, dan peraturan yang sama. Masyarakat yang senantiasa melakukan amar makruf nahi munkar. 

Terakhir yang terpenting adalah adanya negara yang menerapkan hukum IsIam secara kaffah (keseluruhan). Sehingga para Ibu tak kesulitan dalam menjalankan peran mulianya. 

Wallahu a’lam

Oleh : Yayat Rohayati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *