Generasi Teater Baru Tumbuh dari Panggung FTPMN 2025, Unesa Resmi Tutup Gelaran Nasional

INILAHTASIK.COM | Setelah berlangsung selama hampir sepekan, rangkaian kompetisi seni pertunjukan dalam Festival Teater Pelajar dan Mahasiswa Nasional (FTPMN) 2025 akhirnya ditutup pada Sabtu malam, 8 November 2025, di Graha Sawunggaling, Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Ajang ini menjadi penanda geliat komunitas seni panggung di ranah pendidikan yang kian progresif dan adaptif terhadap isu sosial.

Penutupan festival dilakukan oleh Dr. Tutur Jatmiko, S.Pd., M.Kes., selaku Kasubdit Kemahasiswaan dan Alumni mewakili Rektor Prof. Dr. Nurhasan, M.Kes.

Dalam sambutannya, ia menyinggung pentingnya seni teater sebagai ruang dialektika bagi pelajar, di tengah serbuan digitalisasi yang kerap meminggirkan proses kreatif berbasis interaksi langsung.

“Melalui teater, kita belajar mendengar sesama, memahami keadaan, serta membaca kompleksitas kehidupan,” tegasnya.

Hadir pula Wakil Dekan I Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Unesa, Dr. Didik Nurhadi, Ph.D., yang memberikan apresiasi terhadap upaya komunitas seni mempertahankan ruang ekspresi.

Sementara itu, Pembina KKM Teater Sendratasik, Syaiful Qadar Basri, S.Pd., M.Hum., mengajak hadirin mendorong regenerasi seniman yang konsisten, kokoh, dan berkeadaban.

UI Seni Budaya Perkuat Riset dan Ekosistem Kreatif

Festival tahun ini juga mendapat dukungan strategis dari Pusat Unggulan Iptek (PUI) Seni Budaya Unesa, yang selama ini fokus mengembangkan kajian seni berbasis kearifan lokal. Melalui dukungannya, program FTPMN diperkaya dengan perspektif akademik, penguatan kuratorial, serta penegasan bahwa karya seni bukan sekadar hiburan, tetapi hasil praktik riset budaya.

PUI menyampaikan bahwa keterlibatan mereka didasari misi untuk menciptakan “ekosistem seni berkelanjutan” yang menghubungkan kampus, komunitas, dan masyarakat.

Bakti Budaya Djarum Foundation Dukung Pembinaan Komunitas

Selain itu, dukungan dari Bakti Budaya Djarum Foundation ikut berperan dalam memperkuat pembinaan komunitas teater pelajar. Djarum Foundation menegaskan bahwa pendampingan seni merupakan salah satu upaya merawat kebudayaan nasional sekaligus membangun generasi muda yang inklusif, berani berekspresi, serta memiliki empati sosial.

Lewat dukungan ini, festival semakin terbuka bagi jejaring komunitas lintas daerah, ruang diskusi, hingga peluang belajar profesional bagi para aktor panggung.

Kompetisi Monolog: Trunojoyo Mendominasi dengan “Sekar”

Pada cabang monolog mahasiswa (4 November 2025), kemenangan diraih Evi Zakiyatul Ummah dari Universitas Trunojoyo Madura (Teater Akar) melalui karya “Sekar” dengan perolehan nilai 1066, disusul Marsya Santivani dari Universitas Airlangga lewat “Kalahas” (1052), dan Garnis Hanum Syaumi Chantika dari Universitas Brawijaya dengan “PAS” (1046).

Pantomime Pelajar: Pesan Moral Mendominasi Panggung

Pada 3 November 2025, cabang pantomime pelajar menampilkan ragam narasi sosial. Juara pertama diraih M. Affan Putra S. dan Antyka Putri Vernanda dari MTsN 2 Kota Blitar melalui “Jejak Kebaikan” yang unggul dengan 769 poin. Disusul SMPN 2 Mojosari TLM 1 yang mengangkat tema literasi perpustakaan, serta SMPN 5 Bojonegoro dengan isu digital.

Teater Pelajar: “Machiavellian” Jadi Magnet Sorotan

Salah satu sorotan festival ialah cabang utama teater pelajar yang berlangsung pada 5—7 November 2025. Teater Kompas dari MAN 1 Nganjuk berhasil dinobatkan sebagai Juara Umum melalui lakon “Machiavellian”, yang mengusung tafsir kekuasaan dan moralitas.

Selain itu, teater Kompas juga merebut gelar Penyaji Terbaik dengan total nilai 464,5. Posisi berikutnya, Teater Socatirta dari SMKN Mojoagung berada di peringkat kedua, diikuti Teater Nityadharaka dari Ponorogo sebagai peringkat ketiga.

Resonansi Festival: Lebih dari Sekadar Lomba

Menurut panitia, antusiasme pelajar dan mahasiswa tahun ini meningkat signifikan. Banyak komunitas datang membawa isu:

  • bullying dan literasi digital,
  • kepekaan lingkungan,
  • budaya lokal,
  • hingga persahabatan lintas kelas sosial.

FBS Unesa memastikan festival ini akan terus dievaluasi dan diperbarui, agar relevan dengan konteks sosial generasi kreatif.

Pesan Penutup: Panggung Mencetak Empati

Di akhir acara, Syaiful Qadar Basri mengungkapkan bahwa teater mengajarkan empati secara paling konkret.

“Seni panggung adalah ruang memanusiakan manusia. Kita belajar menjadi orang lain untuk kembali memahami diri sendiri,” ujarnya.

Lampu sorot pun meredup, riuh penonton perlahan menghilang, namun gema apresiasi tetap bertahan di koridor fakultas.

Menuju FTPMN 2026

Dengan usainya penyelenggaraan FTPMN 2025, Unesa berharap partisipasi tahun berikutnya terus berkembang. Dukungan institusi pendidikan, komunitas, hingga kebijakan budaya menjadi pondasi keberlanjutan festival.

Tahun depan, panggung akan kembali dibuka. Mereka yang pernah naik, akan selalu punya alasan untuk kembali.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *