Glokalisasi Tasikmalaya dan Roma, Upaya DKKT Agar Tasikmalaya Dikenal Dunia

Glokalisasi terbentuk dari neologisme yang memadukan kata global dan lokal.

Glokalisasi Tasikmalaya dan Roma, Upaya DKKT Agar Tasikmalaya Dikenal Dunia

KOTA TASIK, INILAHTASIK.COM | Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya melalui Rumpun Photograpy menggelar rangkaian Kibar Budaya yang dilaksanakan di Gedung Kesenian Kota Tasikmalay pada Rabu 21 September 2022.

Kibar Budaya yang digelar Rumpun Photograpy mengambil tema Glocalization of Cross Cultural Perspectives "Exchange of Photografy Exhibition in Tasikmalaya dan Rome".

Kegiatan ini dibagi menjadi dua sesi, yang pertama adalah workshop yang dimulai pukul 3 sore hingga pukul 5 sore, kemudian dilanjutkan dengan Exhibition yang dmulai dari pukul 7 malam hingga pukul 10 malam.

Dalam workshop Artistalk menghadirkan narasumber Firman Maulana, Stefano Romano, Vudu Abdul Rohman dan M Agung Setiawan dengan Moderator Risman Andriyansyah.

Untuk Pameran Karya Tasik x Roma menampilkan karya dari Stefano Romano, Alita Spano, Sandro Luciani, Umberto Tati, Stefano Mirabella, Gian Marco Venturi, Fabio Renzi, Fiman Maulana, Dadi Surtiana, Faisal Sulistio dan M Syabiq

Ketua Pelaksana M. Agung Setiawan mengatakan, Glokalisasi terbentuk dari neologisme yang memadukan kata global dan lokal.

"Maknanya, bahwa lokalitas sebagai karakter satu bangsa dapat memiliki tempat di kancah global," ucapnya.

Jika globalisasi seolah menyeragamkan pada suatu budaya tertentu, maka glokalisasi justru sebaliknya.

"Produk ataupun sebuah karya yang bernilai lokal akan memberi banyak perspektif dan  nilai lain terhadap pandangan global," katanya.

Sehingga, lanjut Agung, latar belakang tersebut melecut garapan glokalisasi perspektif lintas budaya dua kota melalui pertukaran pameran fotografi jalanan di Tasikmalaya dan Roma.

"Meskipun Seluruh dunia terdampak fenomena pandemi, era digital dan teknologi informasi justru mempermudah upaya ini melalui komunikasi dan interaksi tanpa jarak dan kosmopolitan," ungkapnya.

Berdasarkan pertukaran pameran fotografi jalanan Tasikmalaya dan Roma dapat dikatakan sebagai alternatif untuk menggambarkan lokalitas di antara dua kota masing-masing.

"Upaya ini dapat mengenalkan budaya lintas negara dan menarik minat pariwisata di antara 2 kota tersebut. Selain itu juga fotografi masih relevan untuk menjadi mata lain bagi manusia untuk melihat dunia yang beragam,"  tutunya.

Agung memambahkan, indikasi lokalitas sebagai identitas dari dua kota lintas negara ini sebagai upaya glokalisasi perspektif lintas budaya.

"Global terhubung melalui teknologi informasi dan bertemu dengan lokal yang memanfaatkan kecanggihannya," Agung menandaskan.

Sementara itu Ketua Rumpun Fotografi DKKT Zain A Martadisastra megatakan kegiatan inti hari ini adalah memamerkan karya fotografi dari 7 fotografer Italia dan 7 fotografer Tasikmalaya.

"Hari ini exhibiiton menampilkan karya street fotografi dari dua kota yaitu Tasikmalaya dan Roma, sebelum ke acara inti ada seminar atau workshop yang mengupas apa itu street fotografi," ucapnya.

Zain berhaharap dengan kegiatan ini fotografi di Tasikmalaya bisa terus berkembang dan berfikir universal dan mengasilkan karya.

"Semoga fotografi di Tasikmalaya semakin maju dan berkembang, berkarya lokal untuk hasil yang global, sehingga Tasikmalaya ini bisa lebih dikenal lebih luas oleh negara lain melaui fotom," pungkas Zain.

Baca juga: Jaga Kearifan Lokal, Rumpun Teater DKKT Gelar Pertunjukan Gondang Gandrung