INILAHTASIK.COM | “Kalau ditanya kenapa jadi guru honorer? Mungkin karena takdir aja. Hahaha.” Kalimat itu meluncur dari seorang guru honorer perempuan yang telah mengajar selama dua tahun lebih. Ia masih muda, semangatnya besar, tetapi hidupnya bergulat dalam berbagai keterbatasan.
Ia bukan satu-satunya. Di berbagai penjuru Indonesia, para guru honorer hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian. Dengan penghasilan yang rendah, status yang tidak jelas, dan posisi yang rentan, mereka tetap berdiri di depan kelas setiap hari, menyampaikan ilmu dan menemani proses belajar para siswa.
Dari Cita-Cita Jadi Penyanyi, Hingga Takdir Menjadi Guru
Perjalanan menjadi guru bukanlah impian awalnya. “Saya dulu pengen jadi penyanyi, tapi nggak bisa nyanyi. Lalu pengen jadi penulis, tapi guru BK bilang lapangan kerjanya kecil dan gajinya nggak pasti,” katanya.
Arahan itu membuatnya memilih masuk ke dunia keguruan bukan karena hasrat besar, melainkan pertimbangan realistis.
Setelah sempat mengajar di sebuah Madrasah Aliyah selama satu setengah tahun dan kemudian mengundurkan diri, kini ia mengajar di jenjang SMP dan SMA pada sebuah sekolah Islam terpadu. Ia menyebut dirinya sebagai “batita” baru dua tahun berjalan sebagai guru.
Gaji Tak Sebanding, Tapi Tetap Bertahan
“Dulu waktu belum merangkap tim media, gaji saya paling tinggi satu juta, itu pun kalau banyak lembur. Rata-rata sih 800 ribu,” ujarnya. Ia kini juga membantu dokumentasi kegiatan sekolah dan membuat konten media sosial.
Penghasilannya cukup untuk makan dan tidur. Tapi jelas tidak cukup untuk hal lain. “Bayar hutang dan menabung? Itu mimpi siang bolong,” tambahnya sambil tertawa.
“Sejujurnya, pekerjaan ini lebih layak buat orang dari keluarga kaya. Biar bisa ngajar tanpa mikirin uang.” ucapnya.
Selain mengajar di sekolah, ia juga mengajar bimbingan belajar demi menambah penghasilan.
Honorer di Titik Paling Rentan
Di sekolah tempatnya bekerja, semua guru berstatus non-PNS. Ia belum merasakan langsung ketimpangan antara guru PNS dan honorer. Namun dari cerita teman-temannya, ia tahu bagaimana posisi honorer kerap berada di titik paling rentan.
“Setiap tahun ajaran baru, guru honorer mulai was-was: kalau murid sedikit, kita bisa didepak atau disuruh ngajar mata pelajaran lain yang bukan bidang kita. Sedangkan guru PNS tetap nyaman karena harus memenuhi jam minimal,” katanya.
Ia juga belum mendapat akses ke Data Pokok Pendidikan (Dapodik), belum mengikuti Pendidikan Profesi Guru (PPG), dan merasa masih jauh dari pengakuan pemerintah. “Untung sekolah saya cukup baik hati. Saya diterima, dianggap, dan dipercaya,” katanya.
Menemani Anak Bertumbuh
Saat ditanya tentang arti menjadi guru, ia menjawab tanpa ragu: “Menemani proses bertumbuh anak-anak.” Bukan hanya soal mengajar materi, tapi juga membentuk karakter, memberi dukungan, dan hadir di momen penting dalam kehidupan murid-muridnya.
Kekuatan untuk terus mengajar datang dari hal sederhana. “Rasanya hangat sekali waktu dengar anak-anak teriak ‘Ibuuuu!’ dengan semangat. Mungkin kedengaran lebay, tapi itu benar-benar menyentuh,” tuturnya.
Harapan dan Kritik: Jangan Jadi Objek Belas Kasihan
Jika diberi kesempatan bicara langsung dengan pemangku kebijakan, ia tak ingin berbicara bertele-tele. “Sederhana saja: jangan bikin peraturan yang makin ruwet. Kami sudah cukup lelah,” ucapnya.
Harapannya pun lugas: semoga guru honorer tidak terus menjadi objek yang dikasihani. “Kami tidak butuh belas kasihan. Kami butuh kepastian,” katanya.
Antara Bertahan dan Berpikir untuk Pindah Jalur
Ia mengakui, pernah terpikir untuk berhenti. “Tapi untuk ganti karier itu nggak cuma butuh keberanian, tapi juga butuh uang buat membangun branding dan pesona baru,” jelasnya.
Untuk saat ini, ia memilih bertahan. Karena panggilan hati, karena murid-muridnya, dan karena harapan bahwa suatu saat nanti, dunia pendidikan Indonesia akan lebih berpihak pada mereka yang bekerja dalam diam: para guru honorer.
Kami mencatat, nasib guru honorer di Indonesia masih dibayangi oleh ketimpangan struktural, minimnya perlindungan, dan keterbatasan ekonomi. Namun di tengah itu, mereka tetap hadir di ruang kelas, menjalankan tugas sunyi mereka: mencerdaskan bangsa.



