Opini  

Hak untuk Goblok

INILAHTASIK.COM |Di tengah dunia yang makin sibuk mencari jawaban, barangkali kita perlu belajar lagi bagaimana bertanya.

Anak-anak hari ini tumbuh dalam lingkungan yang menilai kecerdasan dari seberapa cepat dan tepat mereka menjawab soal. Di ruang-ruang kelas, keingintahuan perlahan dikikis oleh sistem yang menuntut kepastian. Sementara itu, para orang dewasa justru terjebak dalam keyakinan bahwa usia dan pengalaman telah menjadikan mereka ahli dalam segalanya.

Padahal, sejarah selalu membuktikan: perubahan besar justru lahir dari pertanyaan-pertanyaan kecil. Dari kegelisahan yang tampak sepele. Galileo mempertanyakan langit. Newton bertanya pada apel yang jatuh. Bahkan, dalam kitab suci, pertanyaan menjadi cara Tuhan menggugah hati manusia.

Namun, hari ini kita hidup di zaman yang berbeda. Jawaban lebih dihargai ketimbang pertanyaan. Anak yang bertanya terlalu banyak dianggap mengganggu. Orang dewasa yang menjawab semuanya dianggap pintar, walau sering kali hanya mengulang apa yang sudah usang.

Bertanya adalah Tanda Hidup

Kita lupa bahwa anak yang cerdas bukan yang selalu tahu jawabannya, tetapi yang tak pernah berhenti bertanya. Pertanyaan adalah tanda bahwa pikiran masih hidup. Sebaliknya, orang dewasa sering mematikan pikirannya dengan keyakinan bahwa ia sudah cukup tahu. Mereka memakai “hak untuk goblok” secara berlebihan: hak untuk merasa benar sendiri, hak untuk menolak pandangan lain, hak untuk tidak belajar lagi.

Di media sosial, kita bisa menyaksikan parade kebodohan ini setiap hari. Opini dibentuk tanpa informasi. Argumen disampaikan tanpa riset. Banyak orang merasa harus selalu punya jawaban, bahkan atas hal yang tak mereka pahami. Mereka membangun ego di atas pondasi rapuh bernama kesimpulan cepat.

Dalam dunia yang dihuni oleh algoritma dan kecepatan, pertanyaan dianggap lamban. Padahal, justru di tengah hiruk pikuk inilah, kita butuh lebih banyak diam, jeda, dan perenungan. Kita butuh generasi yang berani bilang, “Saya belum tahu,” atau, “Saya sedang mencari.”

Berhenti Menjawab, Mulai Bertanya

Menjadi dewasa seharusnya bukan berarti berhenti bertanya. Justru di usia matang, kita punya kapasitas untuk mengajukan pertanyaan yang lebih dalam, lebih kritis, dan lebih manusiawi. Tentang dunia, tentang nilai, tentang arah hidup.

Kita hidup di era informasi, tapi jangan sampai kehilangan hikmah. Kita bisa tahu segalanya dalam sekali klik, tetapi hanya dengan bertanya, kita bisa benar-benar memahami.

Maka, jangan buru-buru menjawab. Dunia tidak butuh lebih banyak orang pintar. Dunia butuh lebih banyak orang yang jujur bahwa mereka masih belajar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *