INILAHTASIK.COM | Kondisi memprihatinkan dialami Wawan (58) warga Cikadu RT 01 RW 02 Kelurahan talagasari Kecamatan Kawalu Kota Tasikmalaya. Ia hidup sebatang kara di sebuah bangunan kecil berukuran 2×3 meter yang berdampingan dengan pemakaman umum warga sekitar.
Sejatinya Wawan dulu pernah merasakan kebahagiaan membina rumah tangga dan memiliki beberapa anak, namun kondisi pelik menimpanya setelah matanya tak bisa lagi melihat akibat debu dari pekerjaan konveksi yang ia lakoni sebelumnya.
Ironinya dalam kondisi tersebut Wawan harus menerima pil pahit ditinggalkan sang istri dalam kondisi kebutaan yang ia alami. Tak ada sosok perempuan yang merawat dan membelanya di saat ia terpuruk. Kondisinya semakin pelik ketika kakinya tiba-tiba mengalami kelumpuhan hingga ia tak mampu lagi beraktivitas normal.
Kini Wawan hidup sebatang kara, untuk memenuhi kebutuhan harian ia menunggu belas kasih dari para tetangga di sekitar tempat tinggalnya. Beruntung warga dan pengurus RT setempat peduli terhadap kondisi yang dialaminya.
Seperti kebanyakan warga miskin ekstrim yang ditemukan pihak Yayasan Padi Nusantara Sejahtera, Wawan pun luput dari perhatian Pemerintah Kota Tasikmalaya. Ia tak menerima bantuan sosial apapun dari pemerintah.
Pengurus RT setempat bukan tidak mengusulkan Wawan agar mendapat bantuan dari pemerintah, namun usulan demi usulan tak kunjung direalisasikan oleh pemangku kebijakan di kota ini.
Pengurus Yayasan Pada Nusantara Sejahtera, Yanuar M Rifki mendesak Pemerintah Kota Tasikmalaya untuk memberikan perhatian kepada warganya yang kurang mampu, salah satunya Wawan warga Cikadu Kelurahan Talagasari Kawalu.
“Jangan sampai kelak di akhirat para pejabat di kota ini mulai dari walikota, ketua DPRD, Kepala Dinas, camat, dan lurah, mereka terhalang masuk ke dalam surga-nya Allah Ta’ala disebabkan karena mereka abai terhadap warganya yang membutuhkan,” ujar Yanuar, kepada wartawan, usai menyerahkan bantuan beras dan uang tunai kepada Wawan, Rabu 1 Oktober 2025.
Iya juga menyinggung peran dari pendamping program keluarga harapan yang tak memasukkan Wawan ke dalam daftar penerima bantuan sosial dari pemerintah. Padahal jelas kondisi Wawan sangat begitu memprihatinkan dan layak untuk mendapat bantuan.
“Pendamping PKH juga harus bertanggung jawab, jangan sampai mereka juga terhalang masuk ke surga karena tidak berlaku adil kepada masyarakat, seperti pak Wawan ini,” kata Yanuar.
Pihaknya berharap Pemerintah Kota Tasikmalaya dalam hal ini Dinas Sosial dapat melakukan update data penerima bansos. Jangan sampai warga yang layak menerima terabaikan, sedangkan mereka yang tidak layak menerima, justru menikmati bantuan sosial pemerintah.











