Opini  

Jangan Menunda Kebaikan

INILAHTASIK.COM | Kegemerlapan dunia hari ini begitu memanjakan mata dan melemahkan hati manusia. Kemajuan teknologi, kemewahan materi, gaya hidup, hingga pujian manusia, telah menarik mereka untuk terus mengejar dunia tanpa henti.

Namun, tanpa disadari di balik cahaya yang menyilaukan ada kegelapan tersembunyi, yakni kelalaian terhadap tujuan hidup yang sesungguhnya. 

Seorang muslim harus memahami bahwa tujuan hidup manusia di dunia adalah beribadah kepada Allah SWT. Segala aktivitas di dunia dilakukan semata-mata mengharap ridho-Nya. Mereka juga meyakini dunia hanyalah tempat persinggahan, bukan tempat tinggal abadi. 

Maka, untuk bisa sampai ke tempat tujuan akhir, harus bisa melakukan amal yang menjadi bekal tinggal di kehidupan abadi.

Namun, karena manusia hidup dalam kegemerlapan dunia dan tak paham tujuan hidup yang sebenarnya, lahirlah manusia yang menunda-nunda perubahan.

Seperti;  “nanti menutup auratnya kalau sudah baik“, “nanti rajin beribadahnya kalau sudah kaya”, atau “nanti taubatnya kalau sudah tua, sekarang mumpung masih muda nikmatin saja hidup ini.” Masih banyak lagi alasan manusia hari ini menunda kebaikan. 

Dengan alasan-alasan diatas manusia seolah memiliki jaminan esok masih ada kesempatan untuk menjadi baik, atau lebih baik dari hari kemarin. 

Padahal Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam pesan yang sangat masyhur:

 “Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: 1. Masa muda sebelum tua, 2. Kesehatan sebelum sakit, 3. Kekayaan sebelum miskin, 4. waktu luang sebelum sibuk, dan 5. hidup sebelum mati.”

” (HR. Ibnu Abi Ad Dunya, Al-Hakim) 

Pesan tersebut bukan bukan sekedar nasihat, melainkan alarm bagi manusia agar tidak terlena dengan gemerlap dan kenyamanan dunia. 

Fakta hari ini, banyak anak muda yang memiliki energi kuat, pemikiran tajam, dan semangat besar, malah terjebak demi kesenangan semu. Menjadikan mereka malas beribadah, malas belajar, malas bekerja, malas berubah lebih baik. Mereka lupa bahwa tenaga atau kekuatan yang dimiliki suatu hari akan melemah. Maka pergunakanlah masa muda untuk hal-hal yang baik dan bermanfaat. 

Selain itu, kesehatan adalah nikmat besar yang sering manusia abaikan. Ketika sehat banyak permintaan dia minta dalam do’anya. Akan tetapi ketika sakit datang, hanya satu yang diminta, yaitu kesembuhan atau kesehatan. Karena mereka baru menyadari ketika sakit untuk sekadar bergerak saja butuh perjuangan. Maka sebelum datang masa sakit, pergunakan masa sehat untuk kebaikan. 

Selanjutnya, kelapangan rezeki sering membuat manusia merasa aman. Padahal roda kehidupan terus berputar. Adakalanya yang kaya bisa berubah menjadi miskin dalam sekejap. Oleh karena itu, pergunakan harta untuk kebaikan, bukan sekadar memuaskan keinginan.

Korban penundaan selanjutnya adalah waktu luang. Banyak yang berkata, “Nanti kalau ada waktu.” Padahal waktu itu ada, hanya saja mereka memilih mengisinya dengan hal yang tak memberi nilai apa pun. Maka, sebelum kesibukan menghampir, pergunakan waktu luang untuk sesuatu yang bernilai kebaikan. 

Terakhir, hidup sebelum mati. Hidup adalah kesempatan yang Allah berikan untuk beribadah. Namun, banyak manusia yang hidup sekedar mengejar dunia yang fana. Oleh karena itu, pergunakan sebaik-baiknya sebelum datang kematian. Perbanyak amal kebaikan. Karena sekecil apapun amal kebaikan yang kita lakukan, kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah SWT. 

Oleh karena itu, marilah bersegera. Hidup bukan untuk menunda-nunda kebaikan. Bagi yang muda produktiflah, bagi yang sehat perbanyak rasa syukur, bagi yang banyak harta bersedekah, yang punya waktu manfaatkan dengan baik, dan yang hidup persiapkan bekal yang banyak menuju kehidupan yang abadi. 

Reminder bagi semua, jika hari ini merasa masih  diberi lima nikmat itu oleh Allah, sadarlah Allah sedang memberi kesempatan besar kepada kita. Kesempatan untuk memperbaiki diri dan memperbanyak amal kebaikan. 

Waktu kita di dunia ini tak ada yang tahu. Jadi, jangan biarkan kesempatan itu hilang. Bersegera yess, menunda-nunda no! 

Wallahu a’lam.

Oleh : Yayat Rohayati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *