Opini  

Jika Siapa Pun Bisa Menjadi Seniman, Apakah Akademi Seni Masih Diperlukan?

INILAHTASIK.COM | Perkembangan teknologi digital, demokratisasi medium, serta meluasnya ruang ekspresi publik telah melahirkan satu klaim yang kerap diulang: siapa pun bisa menjadi seniman dan apa pun bisa menjadi seni. Klaim ini tidak sepenuhnya keliru. Seni, sejak awal kemunculannya, tidak pernah menjadi hak istimewa institusi atau kelompok tertentu. Ia tumbuh dari pengalaman manusia yang paling dasar. merasakan, mengingat, dan memaknai hidup. Namun, keterbukaan ini justru memunculkan pertanyaan lanjutan yang lebih kompleks: jika seni sedemikian terbuka, apakah keberadaan akademi seni masih relevan?

Pertanyaan tersebut bukanlah upaya delegitimasi terhadap institusi pendidikan seni, melainkan sebuah kritik reflektif atas peran, fungsi, dan orientasinya di tengah perubahan ekosistem kebudayaan. Dalam masyarakat yang semakin cair, ketika batas antara produsen dan penikmat seni kian kabur, akademi seni dituntut untuk menjelaskan kembali alasan keberadaannya.

Secara historis, jalur otodidak telah melahirkan banyak seniman penting. Mereka belajar melalui praktik, komunitas, pengalaman hidup, serta proses coba-gagal yang panjang. John Dewey, dalam Art as Experience, menegaskan bahwa seni berakar pada pengalaman sehari-hari manusia, bukan semata pada sistem pendidikan formal. Dari perspektif ini, klaim bahwa siapa pun dapat menjadi seniman memiliki dasar filosofis yang kuat.
Bahkan, dalam banyak kasus, kebebasan dari kurikulum dan birokrasi akademik memungkinkan lahirnya keberanian eksperimental serta pembaruan estetika yang melampaui pakem institusional. Jalur otodidak sering kali lebih dekat dengan realitas sosial, lebih responsif terhadap konteks, dan tidak jarang lebih peka terhadap denyut zaman.

Namun, pembelajaran otodidak juga memiliki keterbatasan yang tidak selalu disadari. Pengetahuan yang diperoleh cenderung fragmentaris, ahistoris, dan minim refleksi kritis. Tanpa dialog dengan tradisi, teori, dan wacana yang lebih luas, praktik seni berisiko terjebak pada repetisi personal, romantisasi intuisi, atau sekadar mengikuti logika popularitas dan pasar. Pierre Bourdieu mengingatkan bahwa produksi kultural selalu berada dalam relasi kekuasaan dan legitimasi tertentu .relasi yang kerap tidak disadari oleh pelaku seni yang sepenuhnya bergerak secara intuitif.

Di titik inilah akademi seni menemukan relevansinya. Akademi tidak seharusnya dipahami sebagai ruang produksi bakat, melainkan sebagai ruang produksi kesadaran. Ia menyediakan kerangka konseptual, historis, dan metodologis yang memungkinkan praktik seni dibaca secara kritis baik oleh pelakunya sendiri maupun oleh publik. Melalui pendidikan formal, seniman diajak memahami bahwa karya bukan hanya ekspresi individual, melainkan juga pernyataan kultural yang memiliki implikasi sosial, politik, dan etis.

Perbedaan mendasar antara jalur otodidak dan akademik, dengan demikian, bukan terletak pada soal legitimasi, melainkan pada kedalaman refleksi. Otodidak unggul dalam spontanitas dan kedekatan dengan pengalaman hidup, sementara akademi idealnya unggul dalam artikulasi, analisis, dan tanggung jawab intelektual. Keduanya bukan posisi yang saling meniadakan, melainkan saling melengkapi.

Masalah muncul ketika akademi seni bergeser dari ruang kritis menjadi ruang normatif. ketika ia merasa berhak menentukan standar tunggal tentang apa yang disebut seni, siapa yang layak disebut seniman, dan metode apa yang dianggap sah. Jacques Rancière menyebut kecenderungan ini sebagai bentuk policing of art, yakni upaya mengatur siapa boleh berbicara dan siapa harus diam dalam ranah estetika. Dalam kondisi demikian, akademi justru kehilangan relevansinya dan berjarak dari dinamika kebudayaan yang hidup.

Oleh karena itu, pertanyaan tentang perlunya akademi seni seharusnya diarahkan pada transformasi perannya. Akademi perlu membuka diri terhadap praktik otodidak, pengetahuan komunitas, dan pengalaman non-formal sebagai bagian dari epistemologi seni. Ia harus menjadi ruang dialog antara teori dan praktik, antara tradisi dan pembaruan, antara disiplin dan kebebasan sebagaimana yang dibayangkan Paulo Freire tentang pendidikan sebagai proses dialogis, bukan transmisi satu arah.

Jika siapa pun bisa menjadi seniman, itu bukan ancaman bagi akademi seni. Justru sebaliknya, hal itu menuntut akademi bekerja lebih reflektif dan rendah hati. Akademi seni tidak lagi berfungsi sebagai penjaga gerbang, melainkan sebagai ruang pendalaman. Di sanalah seni tidak hanya diproduksi, tetapi dipertanyakan; tidak hanya dirayakan, tetapi juga diuji. Dalam konteks inilah akademi seni masih dan justru semakin diperlukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *