INILAHTASIK.COM | Hidup di tengah dunia yang tidak pernah sepi dari penilaian serinkali menjadikan kita bertanya-tanya tentang kualitas diri. Setiap hari, ada saja ukuran yang digunakan untuk menilai siapa diri kita, entah itu dari pencapaian, penampilan, hingga cara kita menjalani hidup.
Dalam lingkungan sosial yang kita pijaki, baik secara langsung maupun melalui media digital, selalu ada standar yang tampak harus dipenuhi agar dianggap “cukup.” Dan di antara riuhnya suara itu, tanpa sadar kita mulai menunggu satu hal yang sama: pengakuan.
Berharap ada orang lain yang mengatakan bahwa kita berharga, bahwa apa yang kita lakukan sudah berarti. Seolah tanpa kalimat itu, segala usaha yang kita lakukan belum benar-benar memiliki makna dan sia-sia.
Hal seperti ini bukan sesuatu yang asing. Banyak orang, khususnya di era sekarang, menggantungkan rasa percaya diri pada validasi eksternal, baik dalam bentuk pujian, pengakuan, maupun penerimaan dari lingkungan sekitar.
Kehadiran media sosial bahkan memperkuat kecenderungan ini secara signifikan. Angka like (suka), komentar, jumlah pengikut, hingga seberapa sering seseorang mendapatkan respons positif, sering kali dijadikan tolok ukur atas nilai diri.
Tanpa disadari, standar yang digunakan untuk menilai diri sendiri pun perlahan bergeser, tak lagi sepenuhnya bertanya pada diri sendiri, melainkan lebih sering “Apa kata orang lain tentang saya?”
Pada dasarnya, kebutuhan akan validasi adalah hal yang manusiawi. Sejak usia dini, kita telah terbiasa menerima penilaian dari orang-orang di sekitar kita.
Sistem pendidikan, pola asuh, hingga lingkungan sosial membentuk kebiasaan bahwa sesuatu dianggap baik ketika mendapatkan pengakuan.
Anak-anak dipuji ketika berprestasi, dinilai ketika melakukan kesalahan, dan secara tidak langsung belajar bahwa nilai diri mereka berkaitan erat dengan respons yang diberikan oleh orang lain. Dalam batas tertentu, hal ini memang berperan dalam membentuk motivasi.
Namun, persoalan muncul ketika kebiasaan tersebut terus terbawa hingga dewasa tanpa diimbangi dengan kemampuan untuk menilai diri sendiri secara mandiri.
Ketika validasi eksternal menjadi satu-satunya sumber nilai diri, maka kita akan berada pada posisi yang rapuh. Ia akan mudah merasa cukup ketika dipuji, tetapi juga mudah merasa tidak berharga ketika diabaikan. Ketika pujian tidak datang, ia mulai meragukan kemampuannya sendiri.
Ketika pengakuan tidak diberikan, ia merasa gagal, meskipun telah berusaha dengan sungguh-sungguh. Kondisi ini dapat memicu berbagai dampak psikologis, seperti rendahnya kepercayaan diri, kecenderungan untuk terus membandingkan diri dengan orang lain, hingga overthinking yang berlebihan terhadap penilaian sosial.
Dalam jangka panjang, kita dapat kehilangan arah dalam menentukan tujuan hidupnya, karena keputusan yang diambil lebih didasarkan pada ekspektasi orang lain dibanding keinginan diri sendiri.
Ironisnya, di tengah kebutuhan besar akan validasi tersebut, kita sering kali justru melupakan satu hal yang paling mendasar, yakni kemampuan untuk memvalidasi diri sendiri. Kita cenderung lebih mudah memberikan apresiasi kepada orang lain dibandingkan kepada diri sendiri.
Kita bisa dengan tulus mengatakan “kamu hebat” kepada orang lain, tetapi merasa ragu atau bahkan canggung untuk mengucapkan hal yang sama kepada diri sendiri.
Kita menjadi begitu kritis terhadap kekurangan, namun kurang adil dalam menghargai usaha yang telah dilakukan. Kesalahan kecil sering diperbesar, sementara proses panjang yang telah dilalui justru terabaikan.
Padahal, membangun kemampuan untuk memvalidasi diri sendiri merupakan langkah penting dalam menjaga keseimbangan psikologis. Validasi diri bukan berarti menutup mata terhadap kekurangan, melainkan mengakui bahwa setiap proses memiliki nilai, terlepas dari hasil akhirnya.
Menghargai usaha, menerima keterbatasan, serta memberikan ruang bagi diri untuk berkembang adalah bentuk penghargaan yang seharusnya tidak bergantung sepenuhnya pada orang lain. Dengan demikian, kita tidak lagi sepenuhnya bergantung pada penilaian eksternal untuk merasa berharga.
Perihal ini, validasi eksternal tidak sepenuhnya perlu ditolak. Pengakuan dari orang lain tetap memiliki peran dalam kehidupan sosial, terutama sebagai bentuk apresiasi dan dukungan. Namun, yang perlu diperhatikan adalah proporsinya.
Validasi dari luar seharusnya menjadi pelengkap, bukan fondasi utama, karena seharusnya dibangun dari dalam diri melalui kesadaran akan nilai diri, penerimaan terhadap proses, serta kemampuan untuk bersikap lebih adil kepada diri sendiri.
Pada akhirnya, mungkin yang selama ini kita cari bukan sekadar didengar oleh dunia, melainkan dipahami, termasuk oleh diri sendiri. Sebab sebelum berharap orang lain mengakui nilai kita, ada satu hal yang lebih mendasar yang sering terlewatkan: memastikan bahwa kita sendiri tidak lagi meragukannya.
Ketika seseorang mampu berdiri di atas penilaiannya sendiri, ia tidak lagi mudah goyah oleh suara-suara di luar dirinya. Ia tetap terbuka terhadap masukan, namun tidak kehilangan arah hanya karena penilaian yang berubah-ubah.
Maka, di tengah dunia yang terus berbicara, barangkali yang perlu kita pelajari bukan hanya bagaimana didengar, tetapi juga bagaimana mendengarkan diri sendiri dengan lebih jujur. Karena pada akhirnya, tempat pertama dan paling lama kita tinggal adalah diri kita sendiri.
Dan sudah seharusnya, tempat itu menjadi ruang yang cukup aman untuk merasa cukup, bahkan tanpa harus selalu menunggu pengakuan dari siapa pun.

Oleh: Annisa Nabila
Mahasiswi UPI Kampus Tasikmalaya – Prodi PGSD
Komisi Kepengawasan LINTAR











