INILAHTASIK.COM | Menjadi seorang mahasiswa seringkali dipandang sebagai sebuah pencapaian yang membanggakan. Namun, di balik itu semua, proses yang dijalani tidak selalu mudah.
Ada berbagai tantangan yang harus dihadapi, mulai dari tuntutan akademik, tanggung jawab organisasi, hingga pergulatan perasaan yang seringkali tidak terlihat oleh orang lain.
Dalam menjalani perkuliahan, tidak semua hal dapat diceritakan dengan mudah, bahkan kepada orang tua sendiri. Ada kalanya perasaan rindu, lelah, dan tekanan yang dirasakan justru sulit untuk diungkapkan.
Bukan karena tidak ingin berbagi, melainkan karena ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika harus berhadapan langsung, meskipun hanya melalui suara.
Secara pribadi, saya seringkali merasa belum mampu untuk sekadar melakukan panggilan telepon, apalagi video call dengan orang tua.
Setiap kali mencoba, ada perasaan yang tidak dapat ditahan. Mendengar suara atau melihat wajah mereka justru membuat emosi yang selama ini dipendam seakan tumpah begitu saja. Air mata yang tidak terencana seringkali menjadi alasan mengapa saya memilih untuk menahan diri.
Pilihan untuk tidak sering berkomunikasi bukan berarti berkurangnya rasa sayang atau kepedulian. Justru sebaliknya, perasaan tersebut begitu besar hingga sulit untuk dikendalikan.
Dalam diam, saya tetap berusaha menjaga kedekatan, meskipun hanya melalui pesan singkat, atau sekadar melihat foto keluarga sebagai penguat di tengah kesibukan dan tekanan yang ada.
Orang tua mungkin tidak selalu mengetahui apa yang sebenarnya dirasakan oleh anaknya di perantauan. Namun demikian, satu hal yang tidak pernah berubah adalah doa mereka.
Tanpa perlu diminta, tanpa harus diceritakan secara rinci, doa tersebut selalu hadir dan menjadi kekuatan yang tidak terlihat, tetapi nyata dirasakan.
Perjalanan kuliah pada akhirnya bukan hanya tentang pencapaian akademik semata. Lebih dari itu, terdapat tanggung jawab moral untuk menjaga kepercayaan dan harapan yang telah diberikan oleh orang tua. Setiap langkah yang diambil di lingkungan kampus sejatinya juga membawa doa dan perjuangan mereka.
Meskipun hingga saat ini saya belum sepenuhnya mampu menjadi anak yang terbuka dalam berkomunikasi, saya percaya bahwa usaha untuk terus bertahan dan menjalani perkuliahan dengan sungguh-sungguh merupakan salah satu bentuk penghargaan atas segala yang telah mereka berikan.
Pada akhirnya, mungkin tidak semua perasaan harus selalu disampaikan secara langsung. Namun, selama doa tetap mengalir dan usaha terus dilakukan, hubungan itu tetap terjaga. Di setiap langkah yang saya tempuh di kampus, selalu ada doa dari rumah yang tidak pernah terputus.

Oleh: Filla Septi Wulandari
Mahasiswi UPI Kampus Tasikmalaya – Prodi PGPAUD
Staf Departemen Kominfo LINTAR











