INILAHTASIK.COM | Setiap pagi, sebelum langit sepenuhnya biru, seorang perempuan muda di Manonjaya bertanya dalam hati:
“Apakah saya akan terus seperti ini? Apakah gaji honorer cukup untuk hidup? Sampai kapan saya seperti ini?”
Ia bukan tokoh fiksi. Ia nyata—seorang guru honorer. Mengajar di dua sekolah sekaligus sejak Januari 2023: SMK Alikhwan dan SMPN 2 Manonjaya. Dengan gelar Sarjana Pendidikan yang diraihnya usai bertahun-tahun kuliah, ia kini berpindah dari satu ruang kelas ke ruang lainnya.
“Saya hanya mencoba dua sekolah,” ujarnya singkat. Tak ada kata besar, tak ada sorak kemenangan. Hanya mencoba. Hanya bertahan.
“Karena Gelar dan Harapan Orang Tua”
Saat ditanya mengapa memilih menjadi guru honorer, jawabannya lirih namun jujur.
“Karena gelar S.Pd dan keinginan orang tua,” katanya. Bukan karena panggilan jiwa, bukan pula cita-cita masa kecil.
“Sama sekali tidak,” ujarnya lugas.
Dari awal, profesi ini adalah ruang kompromi antara kehendak dan kenyataan, antara mimpi pribadi dan harapan keluarga.
Mengajar Tanpa Suara, Bekerja Tanpa Perlawanan
Hari-harinya berjalan datar. Ia mengajar, mengikuti perintah dan arahan, lalu menyelesaikannya dengan pasrah.
“Begitu-begitu saja. Dikerjakan dengan rela tanpa perlawanan,” ucapnya.
Gajinya Rp624.000 per bulan—kadang habis dalam seminggu, kadang bisa bertahan dua minggu. Tapi tak pernah cukup untuk sebulan penuh.
“Belum satu minggu biasanya sudah habis,” tuturnya dengan nada lelah.
Untuk menyambung hidup, ia mengambil pekerjaan tambahan. Bukan karena ambisi, tapi sekadar agar tetap bernapas.
“Orang Lebih Memandang Beruang daripada Etika”
Ia tidak banyak bicara soal ketimpangan status antara guru PNS dan honorer. Tapi satu kalimat darinya begitu tajam:
“Ya seperti biasa, orang lebih memandang beruang daripada etika.”
Negara ini sering bicara tentang pentingnya pendidikan, tapi melupakan kesejahteraan pendidik. Ia tak punya akses ke Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dan tidak tercatat dalam database resmi pemerintah.
“Kalau dari pemerintah, saya rasa tidak dianggap. Tapi dari sekolah tempat saya mengajar, alhamdulillah, saya masih dibutuhkan,” katanya.
Jika Bisa Bicara pada Pengambil Kebijakan…
Ia tak ingin memohon. Ia hanya ingin berdialog. Bertanya dengan tenang:
“Kenapa ya gaji guru dianggap sepele? Apakah tidak bisa guru di Indonesia digaji besar? Padahal, menghadapi makhluk hidup itu lebih sulit daripada menghadapi benda mati…”
Pertanyaannya bukan gugatan. Tapi suara sunyi yang layak didengar.
Menunggu Waktu, Menemani Tumbuhnya Generasi
Lalu apa yang membuatnya bertahan?
Bukan janji pengangkatan. Bukan impian menjadi ASN. Tapi momen kecil di kelas: suara anak-anak yang memanggil “Bu Guru” dengan polos, tatapan mata mereka yang tulus, dan dukungan orang tuanya.
“Menjadi guru itu belajar ikhlas. Belajar menghadapi makhluk hidup yang berbeda setiap tahunnya, sembari menunggu waktu,” ujarnya.
Waktu untuk apa?
“Mungkin waktu untuk pengakuan. Mungkin waktu untuk pergi. Mungkin waktu untuk akhirnya merasa cukup,” jawabnya pelan.
Harapan yang Sangat Sederhana
Di tengah banyaknya tuntutan dan kebijakan, harapannya hanya satu:
“Semoga menjadi guru itu sudah cukup. Cukup aman, cukup nyaman. Agar tidak perlu mencari kekurangannya di luar.”
Ia tidak menuntut pengangkatan, tidak meminta tunjangan berlapis. Ia hanya ingin hidup sebagai guru—utuh, diakui, dan layak. Sebagaimana negara ini dibangun oleh generasi yang pernah duduk di depan kelas, dibimbing oleh tangan-tangan seperti miliknya.



