INILAHTASIK.COM | Menurut cerita rakyat, Nyi Linggawangi adalah putri dari Prabu Pucuk Umun, raja Kerajaan Talaga Manggung pada abad ke-15. la digambarkan sebagai seorang gadis berparas elok, berakhlak halus, serta cerdas dalam sastra dan seni. Pesonanya membuat banyak bangsawan dan pangeran jatuh hati kepadanya.
Namun, hati Nyi Linggawangi hanya tertambat pada seorang pemuda biasa yang berasal dari kalangan rakyat jelata. Cinta mereka tulus dan murni, tetapi hubungan itu tidak direstui oleh sang raja. Bagi kerajaan, putri mahkota seharusnya menikah dengan bangsawan untuk menjaga kehormatan dan kekuasaan, bukan dengan rakyat biasa.
Cinta yang Terlarang
Prabu Pucuk Umun sangat murka ketika mengetahui putrinya jatuh cinta pada seorang pemuda miskin. Dengan tegas, ia melarang hubungan itu dan berniat menikahkan Nyi Linggawangi dengan bangsawan pilihan kerajaan. Namun, Nyi Linggawangi menolak. la memilih meninggalkan istana dan pergi menyepi ke lereng Gunung Ciremai.
Konon, kepergiannya dilakukan secara diam-diam pada malam hari. Dengan hati yang penuh luka, ia berjalan jauh menuju kaki Gunung Ciremai, mencari ketenangan sekaligus melepaskan diri dari belenggu aturan istana.
Di gunung inilah ia menjalani tapa brata, berpuasa, dan bermeditasi, berharap cintanya mendapatkan restu dari Yang Maha Kuasa.
Menghilangnya Nyi Linggawangi
Cerita rakyat mengatakan bahwa Nyi Linggawangi akhirnya menghilang secara gaib di lereng Gunung Ciremai. Ada yang meyakini ia moksa, yaitu lenyap dengan raganya ke alam gaib karena kesucian hati dan keteguhan imannya. Ada pula yang percaya bahwa arwahnya masih bersemayam di sekitar Gunung Ciremai, menjaga ketentraman dan keseimbangan alam.
Di beberapa titik pendakian Gunung Ciremai, masyarakat sering menyebut adanya tempat yang dianggap sebagai petilasan atau bekas pertapaan Nyi Linggawangi. Para peziarah kerap datang untuk berdoa, memohon ketenangan hati, atau ngalap berkah dari “energi suci” yang dipercaya masih tersisa di tempat tersebut.
Makna dan Nilai Budaya
Legenda Nyi Linggawangi bukan sekadar kisah percintaan tragis, tetapi mengandung makna mendalam.
1. Kesetiaan dan Keteguhan Hati
Nyi Linggawangi setia pada cintanya, meski harus menentang aturan istana. la rela meninggalkan kenyamanan sebagai putri kerajaan demi mempertahankan perasaan tulusnya.
2. Pengorbanan
Keputusan Nyi Linggawangi untuk menyepi ke Gunung Ciremai menunjukkan bahwa cinta sejati tidak selalu berakhir dengan kebahagiaan, melainkan terkadang menuntut pengorbanan besar.
3. Hubungan dengan Alam Gunung Ciremai dalam kisah ini digambarkan sebagai tempat suci, tempat pelarian dari hiruk pikuk dunia, sekaligus simbol ketenangan batin.
Hal ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Sunda menempatkan gunung sebagai ruang spiritual yang sakral.
Nyi Linggawangi dalam Tradisi Lokal
Hingga kini, nama Nyi Linggawangi masih lekat dalam ingatan masyarakat Majalengka dan Kuningan. Beberapa ritual adat kerap dilakukan untuk mengenang jasanya, terutama di daerah sekitar lereng Gunung Ciremai. Masyarakat percaya, jika seseorang datang dengan hati bersih dan niat tulus, ia bisa mendapatkan berkah serta keselamatan dari “penjaga gaib” gunung, salah satunya sosok Nyi Linggawangi.
Selain itu, legenda ini juga menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga kehormatan, kesucian cinta, serta keseimbangan antara manusia dan alam. Cerita Nyi Linggawangi mengajarkan kepada generasi muda sebagai warisan budaya, agar mereka menghargai sejarah dan nilai-nilai luhur leluhur Sunda.
Legenda Nyi Linggawangi adalah salah satu kisah paling terkenal dari Gunung Ciremai. la bukan hanya seorang putri cantik, tetapi juga simbol cinta sejati, pengorbanan, dan kesucian hati. Meski berakhir tragis dengan menghilangnya ia di Gunung Ciremai, kisahnya tetap hidup dalam ingatan masyarakat sebagai bagian dari kekayaan budaya Sunda.



