Makna Demokrasi Belum Mengakar; Pahami Bahasa Seni untuk Para Wakil Rakyat

Makna Demokrasi Belum Mengakar; Pahami Bahasa Seni untuk Para Wakil Rakyat

INILAHTASIK.COM | Melihat menjelang perhelatan pesta demokrasi tahun 2024 dan bercermin di perhelatan demokrasi yang lalu-lalu, hampir 80 persen menyisakan persoalan. 

Hal itu membuktikan bahwa makna demokrasi ternyata belum begitu mengakar dan atau berdampak pada masyarakat. Terlebih para bakal calon wakil-wakil rakyat nyaris  membunuh makna demokrasi itu sendiri (padahal mereka yang harus menjunjung tinggi nilai demokrasi ini).

Nyata-nyatannya terlihat jelas, misalnya belum lagi ditentukan jadwal kampanye para calon wakil-wakil rakyat ini, sudah curi adegan dengan dalih santunanlah, jalan santailah, pengajianlah, sumbangan dan masih banyak lagi. 

Padahal sebelumnnya tidak pernah sama sekali. Yang paling menggelikan lebih menjurus pada kekonyolan kemunculan baligo baligo di jalan. Mereka pikir itu suatu publikasi pencitraan yang efektif. 

Tidak sama sekali! Nyatannya baligo dengan slogan yang memukau dan heroik justru seperti melecehkan dirinya sendiri kenapa demikian? Lebih pantas disebut sebagai pahlawan kesiangan. 

Keberadaan baligo justru mengganggu keindahan kota (tanpa penataan). Proses publikasi dan pencitraan bukanlah main judi rolet (untung-untungan). Dibutuhkan intensitas dan pengorbanan, sebuah citra dan pencitraan demokrasi ditunjang dengan proses yang kontinyu. 

Pilkada (pemilihan wakil rakyat) bukan tempat orang untuk bermain judi rolet!

Kita tak tahu akan diletakkan dimana wajah demokrasi kita, bila dihadapkan pada situasi ini. Apalagi sekarang kita tidak lagi berpijak pada nilai demokrasi sesungguhnya.

Situasi yang kita alami, memang menggelisahkan dan meresahkan. Rasanya, siapapun tak akan tenang hatinya menyaksikan sekelompok orang atau partai-partai yang megatasnamakan demokrasi mencoba mencari keuntungan. 

Seandainya demokrasi itu “Manusia”  yakin dengan seyakin-yakinya akan menjerit kesakitan tapi jeritannya tanpa suara (voice of the voiceless), terasa menyayat sanubari, membuat kita bergegas ingin nyapih . 

Namun, apakah mereka (sekelompok orang atau partai-partai tadi) melakukan seperti yang kita pikirkan? Pengalaman menunjukkan, justru merekalah yang menistakan bahkan mematikan nilai budaya itu (red). 

Persoalannya, mari kita“mencaritahu ”siapakah yang berdosa? Kota Tasikmalaya sebentar lagi menuju gerbang perhelatan demokrasi. Untuk memiliki kekuatan magnetik pesta demokrasi ini, idealnya harus menempuh proses pengkajian, berusaha menelaah atau bercermin pada pesta demokrasi yang yang lalu, guna menuju pada puncak cita-cita “ the moment of truth” pemimpin pemimpin yang kredibel. 

Dan untuk para calon wakil-wakil rakyat (anggota dewan), haruslah memahami bahasa seni, karena pada dasarnya seni atau estetika adalah sebuah peristiwa proses belajar yang dibangun atas dasar penyatuan kehendak, yaitu keinginan pada kesempurnaan lewat kenyataan dalam proses bermasyarakat. 

Hakikatnya cita rasa seni merupakan cerminan perilaku masyarakatnya. Intinya, mengungkap kehendak-kehendak, kepada ke-khusuan untuk membangun calon pemimpin wakil-wakil rakyat yang bermartabat.

Dan bahasa seni sebagai alat penyadaran makna peristiwa atau kejadian di masyarakat. Bukankah sebuah karya seni mewakili jamannya? Ini terjadi disebabkan menjelaskan hakikat peristiwa secara makrokosmos, yang disodorkan dengan bahasa seni secara holistik.

Penulis, 

Tatang Pahat

Pemerhati dan praktisi seni budaya