Opini  

Maulid Nabi, Refleksi Cinta Bukan Sekedar kata

INILAHTASIK.COM | Di bulan rabiul awal tepatnya tanggal 12, umat IsIam di seluruh penjuru dunia merayakan kelahiran Nabi Saw. Ragam syair seperti Barjanzi dan shalawat-shalawat  dilantunkan, ceramah tentang kelahiran dan keagungan Nabi Saw menghiasi setiap peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw. 

Umat IsIam melakukannya sebagai wujud syukur, dan pengharapan kelak pada hari kiamat bisa mendapat syafa’at dari Baginda Rosulullah Saw. 

Namun sangat disayangkan, peringatan Maulid terjebak pada aktivitas ritual saja, tidak sampai pada makna hakiki Maulid Nabi Saw. 

Dalam peringatan Maulid 1447H, Ketua Yayasan Al-Muhajirin Purwakarta sekaligus Ketua LP Ma’arif NU PWNU, Dr. Hj. Ifa Faizah Rohmah M. Pd mengajak seluruh umat IsIam mencontoh keteladanan Nabi Saw untuk kelestarian bumi dan Negeri. Dengan menjadikan peringatan Maulid  sebagai momen dalam penguatan akhlak, menebar kasih sayang, dan memperkokoh persaudaraan (Al-Muhajirin.co.id, 5/9/25).

Akan tetapi dalam negara dengan sistem yang berakidah sekularisme (memisahkan agama dari kehidupan), narasi tersebut akan terhenti sekedar narasi. Sekularisme menjadikan aturan agama berlaku hanya di ranah individu saja terkait ibadah. Sedangkan dalam ranah sosial, ekonomi, pendidikan, pemerintahan tidak bisa diatur dengan aturan agama. 

Fakta hari ini banyak umat IsIam yang banyak bershalawat, sholat, puasa tak ketinggalan. Tetapi mereka masih berekonomi dengan sistem ribawi dan melakukan korupsi. 

Atau dalam sistem pergaulan, gaya hidup generasi yang mencontoh Barat telah melahirkan generasi bebas berperilaku, dan berakhir dengan kerusakan generasi seperti kekerasan seksual, aborsi, dan penyakit masyarakat lainnya. 

Oleh karena itu, peringatan Maulid Nabi Saw seharusnya menjadi momen refleksi cinta oleh seluruh umat IsIam. Perwujudan cinta yang hakiki bukan dengan sekedar memperingati, mengenang kelahirannya, atau melantunkan shalawat saja. Akan tetapi cinta pada ajaran dan menerapkan semua syari’at yang yang Ia bawa. 

Allah SWT berfirman:

“Katakanlah, jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha penyayang.” (TQS.Ali-Imran:31). 

Rosulullah Saw memang telah lama tiada, namun  taat pada syari’at yang Ia bawa membuktikan kecintaan kita sebagai umatnya. 

Dengan kecintaan tersebut, sejatinya akan menumbuhkan kepedulian atas kondisi umat Beliau. Dimana kondisi umat hari ini sedang tidak baik-baik; kemiskinan, rendahnya pendidikan, kerusakan generasi, ketidakadilan, dan kerusakan lainnya. 

Dan puncak dari wujud kecintaan kita pada Beliau saat ini ialah dengan bersungguh-sungguh dalam perjuangan mengembalikan IsIam ke tengah-tengah kehidupan. Karena dengan tegaknya kembali negara yang menerapkan IsIam secara keseluruhan (kaffah), in syaa Allah semua problematika kehidupan akan terselesaikan. 

Wallahua’lam.

Oleh : Yayat Rohayati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *