Opini  

Memperkuat Kompetensi Mahasiswa Melalui Pembelajaran Langsung Bersama Pakar di Ngaos Art Tasikmalaya

INILAHTASIK.COM | Perjalanan pendidikan tinggi tidak sebatas ruang kelas dan teori, tetapi juga harus diwarnai dengan pengalaman langsung yang relevan dan inspiratif. Hal ini dibuktikan melalui kegiatan pembelajaran langsung yang dilakukan mahasiswa Program Studi Sendratasik Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Surabaya (FBS Unesa) pada kesempatan studi lapangan ke Ngaos Art, sebuah yayasan seni dan pendidikan di Tasikmalaya yang mengusung konsep “Belajar Diajar Sejajar”.  

Ngaos Art, yang dipimpin oleh Budi Dharma, M.Sn—lebih dikenal dengan nama panggung AB Asmarandana—merupakan salah satu pusat kesenian yang tidak hanya memfasilitasi pengembangan seni pertunjukan, namun juga menanamkan nilai edukasi dan manajemen pagelaran yang berbasis pengalaman nyata.

Beliau adalah seniman, sutradara teater dan film, serta dosen di Prodi Seni Pertunjukan Universitas Muhammadiyah Tasikmalaya yang telah mengembangkan berbagai festival seni berskala nasional hingga internasional, termasuk Lanjong Art Festival.

Pada tanggal 24-25 Oktober 2025, bersamaan dengan partisipasi mahasiswa dalam Siliwangi Monolog Event (SME) 2025, kegiatan studi lapangan di Ngaos Art memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk mendapatkan ilmu langsung dari pakar tentang cara manajemen pagelaran dan produksi sebuah festival seni.

Diskusi yang runtut dan ilmiah dari AB Asmarandana membuka wawasan baru tentang kompleksitas dan strategi dalam mengelola festival seni yang berkelas dunia, sehingga mahasiswa tidak hanya menjadi pelaku seni, tetapi juga memahami aspek organisasional dan profesi yang harus berkembang dalam bidang seni pertunjukan.

Pendekatan pembelajaran langsung seperti ini sangat efektif dalam memperkuat kompetensi mahasiswa secara holistik, mempertemukan teori dan praktik secara simultan.

Dengan pengalaman belajar pada level produksi dan manajemen, mahasiswa diharapkan mampu mempersiapkan diri untuk menjadi insan seni yang tidak hanya kreatif, tetapi juga profesional dan berdaya saing internasional.

Pengalaman ini juga memantik semangat para mahasiswa dan dosen untuk merencanakan festival teater pelajar dan mahasiswa (FTPMN) yang sudah berusia 16 tahun untuk terus dikembangkan menjadi festival berskala internasional mulai tahun 2027.

Langkah ini menandakan keberlanjutan dan evolusi pembelajaran serta kreatifitas yang diinisiasi dari kolaborasi nyata dengan para master dan praktisi seni ternama.

Bak Pepatah “sekali dayung tiga pulau terlampaui” tercermin jelas pada kesempatan ini, dimana prestasi mahasiswa dalam kompetisi nasional dan pembelajaran langsung di lapangan berjalan beriringan menghasilkan peningkatan kualitas pembelajaran dan pengembangan potensi diri mahasiswa yang sangat signifikan.

Dengan demikian, pembelajaran langsung bersama praktisi seni senior seperti AB Asmarandana di Ngaos Art menjadi contoh nyata dari bagaimana pendidikan tinggi dapat menyatu dengan dunia profesional dan seni melalui pendekatan yang inovatif dan transformatif.

Penulis: Indra Sabri

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *