INILAHTASIK.COM | Sudah menjadi rutinitasku setiap sore harus berbagi ilmu dengan teman-teman kecilku, di ruang tamu yang kusulap jadi madrasah mini. Jujur saja amanah ini tak terbesit sedikitpun dipikirinku.
Namun, demi amanah ini segala upaya kulakukan untuk memantaskan diri di tengah mereka. Pembekalan mengajar kuikuti, mulai dari belajar tahsin, dan ilmu Islam yang syamilan wa kamilan.
Suatu sore ruangan buat majelis ilmu sudah rapi, buku jilid dan juz amma sudah tertata di atas meja. Tapi, mendadak langit yang cerah berubah gelap kehitaman.
Angin kencang turut menjatuhkan dedaunan kering di depan rumah. Tak lama byurrr….. langit menurunkan air hujan sangat deras. Beberapa kilat dan petir pun mengiringi.
“Allahumma shoyyiban naafi’an” gumanku sambil menatap keluar jendela. Pikiranku langsung tertuju pada kondisi saudara-saudara yang masih dalam kondisi banjir. Beberapa waktu yang lalu, Sumatera, Aceh, dan juga wilayah lainnya, termasuk Karawang mengalami banjir.
Pemberitaan di medsos mengenai kondisi mereka yang terdampak banjir, begitu mengiris hati. Terlebih di Sumatera dan Aceh. Mereka bukan sekedar korban banjir akibat curah hujan, akan tetapi mereka menjadi korban keserakahan para pemilik modal.
Pohon-pohon yang akarnya bisa mengikat tanah ketika air hujan turun, ditebang untuk kepentingan bisnis mereka. Mirisnya lagi negara tidak bisa tegas dalam hal ini. Karena negara hari ini hanya hadir sebagai regulator kebijakan yang berpihak pada para korporat, bukan pada rakyat. Alhasil, kerusakan alam di mana-mana, penderitaan rakyat semakin panjang. “Tapi, ko’ mereka ngga sadar sadar ya??” batinku.
“Assalamu’alaikum, umi…” Suara salam diikuti pagar terbuka, membuyarkan lamunanku tentang tingkah para segelintir orang yang haus kekuasaan dan kekayaan. “Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, masuk nak”. Kulihat Syifa masuk dengan gamis yang basah kuyup di bagian bawah.” “Ya Allah, kamu jalan?” “Iya umi, aku pengen selesai juz 7 hari ini, kalau ga ngaji nanti lama masuk juz 8 nya.” Ujar Syifa.
“MasyaAllah, ya sudah sini masuk. Tapi yang lainnya ngga masuk, ijin karena hujan.”
“Iya ngga apa-apa umi, aku ngaji sendiri. Teman-teman pada kebanjiran kayanya mi, tadi di jalan airnya sudah pada meluap dari got, makanya baju gamis aku basah.”
“Sepertinya sih begitu, soalnya umi lihat medsos pada bikin status banjir.” Kataku sambil sesekali menoleh ke luar pagar khawatir tiba-tiba air naik.
Setelah merapikan gamisnya yang kebasahan, Syifa segera mengambil Al-Qur’an dan membacanya. Ayat demi ayat dia lantunkan didepanku. Lalu sesaat dia berhenti, “umi tumben ko’ ngga koreksi bacaan aku.” Tanya Syifa. “Astaghfirullah maaf, umi masih kepikiran suami, dan anak-anak umi yang sedang di luar rumah. Apakah mereka baik-baik saja? soalnya hujan deras, campur angin dan petirnya besar.”
“Semoga mereka semua baik-baik umi, aamiin.”
“Aamiin Allahumma Aamiin” Jawabku.
Ya Allah begitu gelisahnya hati ini, hanya dengan Allah kirimkan air hujan, angin dan petir. Bagaimana dengan saudara di sebagian Sumatera dan Aceh? Atau daerah lainnya yang terendam air berhari-hari? mereka harus kehilangan rumah, harta, pekerjaan, bahkan orang-orang tercinta.
Oleh karena itu diantara pelajaran yang dapat kita ambil dari musibah banjir ialah selalu bersyukur dan jangan sombong. Kita hidup di dunia ini hanya menjaga titipan Allah. Kalau suatu saat diambil, jangan marah. Karena sejatinya kita hanya dititipkan.
Satu lagi pelajaran yang bisa diambil ialah jangan lah bersikap rakus atau serakah. Yang dengan keserakahan itu mengakibatkan banyak jiwa menderita bahkan kehilangan nyawa. Padahal IsIam begitu melindungi nyawa seorang mukmin.
Seperti tercantum di surat An-Nisa ayat 93, yang memberi peringatan keras terhadap yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja. Dimana balasannya adalah neraka Jahanam, murka, laknat, dan adzab besar dari Allah Swt.
Wallahu a’lam.

Oleh : Yayat Rohayati











