Opini  

Menunda Pernikahan, Menghantarkan Pada Kesuksesan Hidup. Benarkah?

INILAHTASIK.COM | Ruang Aula SMAN 1 Babakancikao, Purwakarta menjadi tempat pengarahan pernikahan kepada para pelajar kelas 12, yang dihadiri oleh Penyuluh Agama IsIam Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Babakancikao, Hakim Muslim, H Dede Sopyan dan Iwan Setiawan pada hari Rabu, 3/8/2025.

Dalam pemaparannya, penyuluh agama menyampaikan bahwa tujuan dari kegiatan tersebut adalah untuk memahamkan remaja akan pentingnya kesiapan, baik mental, emosional, pendidikan, hingga ekonomi sebelum memasuki jenjang pernikahan.

Kegiatan ini berkaca pada fakta hari ini banyak pernikahan mengalami kegagalan, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga, perselingkuhan, dan berakhir perceraian. Oleh karena itu menunda pernikahan adalah solusinya. 

Penyuluh agama KUA berharap dengan kegiatan tersebut remaja memiliki kesadaran untuk fokus pada pendidikan dan karier dulu, setelah sukses baru memikirkan pernikahan. Sehingga dengan ini bisa melahirkan generasi yang lebih siap, sehat, dan mampu mencapai kesuksesan hidup. 

Kesuksesan materi, jabatan, pendidikan dan lainnya menjadi tolak ukur kesuksesan seseorang dalam sistem hari ini. Tanpa memikirkan apakah cara untuk meraih kesuksesan tersebut diridhoi Allah atau tidak. Sebab hal itu tidak penting bagi masyarakat yang hidup dalam sistem kapitalisme sekularisme. Mereka hanya membutuhkan Allah saat ibadah saja, dalam ranah kehidupan mereka mengabaikan aturanNya. 

Alhasil banyak pernikahan dini terjadi akibat dari pergaulan bebas di kalangan remaja. Seperti seks bebas dan hamil diluar nikah. Mirisnya orangtua mereka malah menikahkannya. 

Dalam IsIam, tidak ada pernikahan dini yang dilatarbelakangi pergaulan bebas atau hamil diluar nikah. Setiap manusia tidak akan terhalang dalam meraih kesuksesan pendidikan maupun karir. Semua akan bisa diraih dengan baik dan sesuai dengan syariatNya. 

Sebab, seorang muslim yang beriman melalui proses berfikir bukan karena ikut-ikutan akan  memiliki syaksiyah IsIam, yakni memiliki pola pikir Islami dan pola sikap Islami. Dia akan senantiasa berhati-hati dalam menjalani kehidupan. Sebelum melakukan amal akan dilihat dulu apakah sesuai dengan hukum syara atau malah bertentangan. Karena mereka menyadari kelak semua perbuatan akan dipertanggungjawabkan di pengadilan Allah. 

Selain itu, dalam IsIam negara bertanggungjawab menjamin pemenuhan kebutuhan dasar warga daulah mulai dari sandang, pangan, papan, kesehatan dan juga keamanan. Sehingga meminimalisir terjadinya kegagalan rumah tangga yang diakibatkan oleh kesulitan ekonomi. 

Oleh karena itu kesuksesan hidup bisa diraih bukan dengan solusi sesaat dan temporal. Akan tetapi perlu adanya sebuah sistem yang mencabut akar permasalahan, yakni solusi IsIam. Sebab hanya IsIam dengan seperangkat aturan dari sang Pencipta dan Pengatur yang bisa menyelesaikan segala problematika kehidupan dan mampu menjadi Rahmat bagi seluruh alam. 

Wallahua’lam.

Oleh : Yayat Rohayati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *