Parade Monolog Menggugat Kepalsuan Sistem Akademik

INILAHTASIK.COM | Studio Ngaos Art, Tasikmalaya, Senin 5 Januari 2025, menjadi ruang pertemuan beragam kegelisahan mahasiswa melalui pertunjukan Parade Monolog, sebuah pergelaran seni pertunjukan yang menghadirkan 15 monolog dengan tema besar kritik terhadap kepalsuan sistem akademik dan relasi kemanusiaan di dalamnya.

Parade Monolog menggunakan naskah karya Ab Asmarandana yang dalam prosesnya mengalami pembaruan dan penguatan dramaturgi melalui konsultasi bersama sutradara. Pertunjukan ini melibatkan 15 aktor mahasiswa Sendratasik kelas keaktoran dan digelar mulai pukul 14.00 WIB hingga selesai.

Sejumlah kalangan hadir menyaksikan pertunjukan tersebut, di antaranya akademisi, pegiat seni, mahasiswa, serta Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, H. Wahid, yang turut memberikan apresiasi terhadap keberanian gagasan yang diangkat.

Berbeda dengan pertunjukan monolog konvensional, Parade Monolog tidak menampilkan tokoh dramatik dalam pengertian klasik. Setiap monolog justru menghadirkan figur simbolik.seperti Hipokrit, Munafik, Mahasiswa Posil, Mesin Mengajar–Mesin Belajar, hingga Akademi Ilusi—yang merepresentasikan kondisi sosial dan psikologis dunia kampus hari ini.

Melalui pendekatan minimalis dan kesadaran panggung yang kuat, para aktor tidak sekadar memerankan karakter, tetapi menyuarakan pengalaman eksistensial mahasiswa yang hidup di bawah tekanan nilai, angka, reputasi, dan tuntutan sistem akademik. Tema kecemasan terhadap angka—IPK, KHS, dan penilaian administratif—menjadi benang merah yang kuat dalam pertunjukan ini.

Salah satu monolog menyoroti kampus sebagai ruang yang menyerupai panggung besar, tempat mahasiswa dan dosen sama-sama menjalankan peran demi bertahan hidup. Nilai akademik digambarkan sebagai ukuran yang lebih dipercaya daripada suara, proses, dan pengalaman manusia di dalamnya.

Dalam keterangannya, Ab Asmarandana menegaskan bahwa Parade Monolog tidak dimaksudkan sebagai serangan personal terhadap dosen maupun institusi pendidikan. “Pertunjukan ini adalah upaya membaca ulang sistem pendidikan sebagai ruang pertemuan dua manusia, bukan semata-mata mesin produksi nilai dan reputasi,” ujarnya.

Adapun monolog yang dipentaskan antara lain Hipokrit (Siti Annisa) di sutaradarai lingkar Humanoid (Mahesa Jati Hutomo) disutradarai erna hernawan, Munafik (Dani Setiawan) disutradarai iki tusca, Resah (Debi Nuroctaviani) disutradarai sergeyev, Hijab (Vanisa Febrianti) di sutradarai ato suharto, Kelas Kosong (Muslih Husni Ridho) sutaradarai salma. Comfortably Numb (Rizal Febriansyah) diaudradarai fikry ali. Paradoxical Intention (Esa Auliya) rika m, Rupa-rupa Pura-pura (Wilda Raehani) di sutaradari rika mustika, Think (Husni Fajar Drajat) di sutradarai kido kiki fauzi, Slobodon (Zahra Ghaida) disutradarai are pekasih Akademi Ilusi (Naila Isna Lutfia) di autradarai alfin. Mahasiswa Posil (Faiz Nabil) disutardarai ama dodoy aldy ernawan. Kalkulasi Basis (Riri) disutradarai aulia akhsan kribo, serta Mesin Mengajar–Mesin Belajar (Yuma Fajrian) oleh rika jo .

Seluruh monolog berdiri sendiri, namun saling terhubung dalam satu narasi besar tentang kepalsuan yang dilembagakan.

Wakil Ketua DPRD Kota Tasikmalaya, H. Wahid, yang hadir dan menyaksikan pertunjukan menyampaikan apresiasinya. Menurutnya, kegiatan seni seperti Parade Monolog memiliki nilai strategis bagi perkembangan kebudayaan daerah.

“Seandainya setiap kampus bisa mengadakan kegiatan semacam ini, kebudayaan Tasikmalaya akan berkembang lebih cepat. Pertunjukan ini bukan hanya artistik, tetapi juga sangat filosofis,” ujarnya.

Parade Monolog mendapat dukungan dari berbagai komunitas dan lembaga seni, di antaranya Ngaos Art, Lanjong, Kanabini, kertas kopi wak ahon , The Boyout, dan studio Rumah Palsu.inilah tasik.

Melalui format parade, pertunjukan ini tidak menawarkan solusi instan atas problem pendidikan. Sebaliknya, ia mengajak penonton untuk berhenti sejenak, mendengar, dan merefleksikan kembali makna belajar, mengajar, serta keberanian untuk jujur sebagai manusia di tengah sistem akademik yang kerap menuntut kepatuhan.

Penulis: Ab AsmarandanaEditor: Hendra Cahya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *