Pasar Ikan Singaparna Tasikmalaya Kian Sepi, Terancam Mati Suri

Tampak lengang: Aktivitas jual beli ikan di pasar legendaris ini kini tak seramai dulu seiring menurunnya jumlah pembeli.

INILAHTASIK.COM | Denyut aktivitas di Pasar Ikan Singaparna kian melemah. Di kawasan yang berada dalam kompleks Pasar Singaparna itu, suasana yang dulu riuh oleh tawar-menawar kini berubah lengang. Jumlah pedagang terus menyusut, seiring turunnya minat pembeli yang datang langsung ke lokasi.

Memasuki bulan Ramadhan, kondisi tersebut semakin terasa. Jika pada tahun-tahun sebelumnya lapak ikan selalu dipadati warga yang berburu kebutuhan sahur dan berbuka, kini pemandangan itu nyaris tak terlihat. Beberapa kolam dan meja jualan bahkan dibiarkan kosong tanpa aktivitas.

“Sekarang sepi, Pak. Paling banyak sehari terjual 15 kilo, kadang cuma 5 kilo,” ujar Mamat, pedagang ikan nila yang masih bertahan, saat ditemui di lokasi, Sabtu 21 Februari 2026.

Ia mengenang masa ketika penjualan menjelang puasa dan Idul Fitri justru melonjak tajam. Dalam sehari, satu pedagang bisa menghabiskan hingga 50 kilogram ikan. Situasi tersebut berbanding terbalik dengan kondisi saat ini yang dinilai jauh dari harapan.

Kepala Pengelola Pasar Ikan Singaparna, Ujang, mengakui penurunan itu tak lepas dari perubahan pola distribusi dan penjualan. Menurutnya, semakin banyak pedagang yang memilih membuka lapak mandiri di berbagai wilayah, sehingga pembeli tidak lagi terpusat di pasar.

“Salah satu faktornya karena sekarang banyak yang jualan ikan secara mandiri di luar. Jadi pembeli tidak harus datang ke sini,” kata Ujang saat ditemui di area pasar, Sabtu 21 Februari 2026.

Ia memaparkan, pada sekitar tahun 2010, aktivitas pasar masih tergolong stabil. Pembeli bukan hanya dari wilayah Kabupaten Tasikmalaya, tetapi juga dari Garut, Sumedang, Ciamis hingga Cilacap. Dalam sehari, transaksi bisa mencapai tiga sampai lima kuintal berbagai jenis ikan.

Namun seiring waktu, jumlah pedagang terus menyusut. Jika dulu tercatat sekitar 80 pedagang aktif, kini tersisa 18 orang saja. Banyak di antara mereka yang memilih hengkang dan membuka usaha sendiri di daerah masing-masing.

“Mereka dulu jualan di sini juga. Tapi karena pembeli makin sedikit, akhirnya cari alternatif buka lapak sendiri,” jelas Ujang.

Deretan kolam ikan yang kini tampak lengang menjadi potret perubahan zaman. Pasar yang berdiri sejak era 1960-an itu pernah dikenal sebagai pusat penjualan ikan terbesar dan terlengkap di wilayah Tasikmalaya. Kini, kejayaannya perlahan memudar, menyisakan harapan agar geliat ekonomi di pasar tersebut bisa kembali bangkit.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *