Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Anak Usia Dini

Peningkatan Kemampuan Berpikir Kritis Anak Usia Dini

INILAHTASIK.COM | Anak Usia dini adalah usia yang paling efektif dalam mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak. Ada 5 aspek dalam perkembangan anak usia dini yaitu: Pertama, perkembangan moral dan nilai-nilai agama.

Kedua, perkembangan fisik-motorik, Ketiga, perkembangan bahasa. Keempat, perkembangan kognitif. Kelima, perkembangan sosial emosional dan kemandirian. Salah satu perkembangan yang harus dikembangkan untuk anak usia dini yaitu perkembangan kognitif.

Perkembangan kognitif berhubungan dengan kecerdasan otak melalui persepsi, pikiran, ingatan, dan pengolahan informasi yang memungkinkan seseorang memperolah pengetahuan, memecahkan masalah, dan merencanakan masa depan.

Salah satu bagian dari kognitif yaitu berpikir kritis. Dengan mempunyai kemampuan berpikir kritis dapat mengarahkan anak agar mampu membuat keputusan yang tepat, cermat, sistematis dan logis dan mampu mempertimbangkan berbagai sudut pandang.

Kemampuan berpikir kritis juga dapat mengarahkan pada sikap, sifat, nilai dan karakter yang baik. Anak usia dini sangat dianjurkan untuk diajarkan bagaimana cara berpikir kritis. Berbagai metode dapat dilakukan untuk mengajarkan anak berpikir kritis, salah satunya dengan eksperimen berbasis lingkungan.

Eksperimen yang dapat dilakukan di rumah dengan menggunakan alat dan bahan seadanya tetapi memiliki manfaat yang luar biasa untuk perkembangan kognitif anak, yaitu dengan eksperimen pencampuran warna yang dapat menggunakan alat dan bahan seperti cat air, air, kertas, dan kuas.

Bunda dapat memberikan arahan kepada si kecil bagaimana cara mencampurkan warna dasar sehingga mendapatkan warna baru yang sangat indah.

Manfaat dari metode ini yaitu anak dapat ikut serta secara aktif dan kreatif dalam kegiatan pecobaan sehingga anak dapat melihat secara langsung bagaimana cara menghasilkan warna baru dari hasil pencampuran warna dasar.

Melalui metode ini juga dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis pada anak karena anak mengalami proses percobaan tersebut yang diawali dengan anak mengamati, mencoba, menganalisis, dan kemudian anak menyimpulkan percobaan yang dilakukannya.

selain itu juga metode eksperimen ini dikemas dalam suasana bermain yang menyenangkan dan menarik minat anak untuk melakukan percobaan-percobaan.

Trie Nour Azizah

Mahasiswa UPI Semester 7 Jurusan PG-PAUD