Pensiunan Perkebunan di Tasikmalaya Hidup Sulit, Bantuan Sosial Terlewatkan

INILAHTASIK.COM | Yahya (73), warga RT 05 RW 08 Cilolohan, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, seorang lansia yang tinggal berdua dengan istrinya di sebuah rumah sederhana. Di usia senjanya, Yahya menjalani hari-hari dengan penuh kesabaran meski hidupnya serba pas pasan.

Dulu, Yahya pernah menjadi pegawai perkebunan. Setelah puluhan tahun mengabdi, ia hanya menerima uang pensiun sebesar Rp. 241.000 per bulan, jumlah yang bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar harian dirinya dan sang istri.

Yang lebih memilukan, statusnya sebagai pensiunan perusahaan perkebunan membuat Yahya tidak bisa mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah. Ia masih tercatat sebagai penerima dana pensiun, tanpa melihat bahwa nominal yang diterimanya nyaris tak mencukupi untuk hidup layak.

Kondisi Yahya merupakan potret kecil dari persoalan besar bantuan sosial yang belum tepat sasaran. Di sinilah seharusnya pemerintah turun langsung memastikan data di lapangan sesuai dengan kenyataan hidup masyarakat.

Minggu siang, keheningan di rumah Yahya pecah oleh ketukan lembut di pintu. Datanglah Ustad Agus Marwan, relawan dari Yayasan Padi Nusantara Sejahtera datang membawa sekarung beras dan sejumlah uang. 

“Kami datang bukan karena ingin dipuji, tapi karena hati kami tergerak melihat kondisi pak Yahya. Beliau tidak meminta, hanya berusaha bertahan dengan apa yang ada,” ujar Ustad Agus Marwan, kepada wartawan, usai menyerahkan bantuan, Minggu 02 November 2025.

Pihaknya berharap pemerintah lebih jeli dan meninjau kembali data penerima bantuan sosial agar tepat sasaran. Sebab masih banyak lansia yang layak menerima namun terabaikan.

“Banyak warga lanjut usia seperti Pak Yahya yang sebenarnya sangat layak dibantu, tapi karena status administratif, mereka terlewat dari perhatian. Data yang ada perlu disesuaikan dengan realitas di lapangan,” kata Ustad Agus.

Kisah Yahya bukan sekadar cerita tentang kemiskinan di usia senja, melainkan juga tentang ketimpangan data dan harapan agar kebijakan sosial lebih berpihak pada kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *