Opini  

Pentingnya Menuntut Ilmu agar Hidup Lebih Terarah dan Penuh Barokah

INILAHTASIK.COM | Apabila dikatakan “Berdirilah,” (kamu) berdirilah. Niscaya Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan” (TQS. Al-Mujadilah:11).

Ayat diatas menegaskan jika kita ingin dimuliakan Allah di dunia dan diberi pahala diakhirat, berarti kita harus beriman dan berilmu. Berilmu berarti ada keharusan kita untuk mencari. Karena Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi.

Banyak perintah Allah turunkan kepada manusia, tetapi perintah yang satu ini terkadang terlupakan, atau malah sengaja ditinggalkan karena merasa diri sudah mampu atau sudah cukup. Perintah itu ialah menuntut ilmu. Padahal perintah ini bukan sekadar anjuran, tetapi sebuah jalan ibadah yang menentukan kualitas hidup seorang hamba.

Wahyu pertama Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw.: ‘Iqra,” bacalah. Baca disini bukan sekedar bacaan teks, tetapi bacaan terhadap tanda kebesaran Allah melalui penciptaan alam semesta, manusia, dan kehidupan.

Menuntut ilmu hukumnya wajib, artinya jika dilaksanakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan akan berdosa. Jadi, kita yang sudah mengetahui hukumnya wajib melaksanakan. Jangan hanya menjadikan menuntut ilmu sebagai baktivitas sampingan, atau pelengkap kesibukan dunia. Justru harus menjadi prioritas utama sebelum melaksanakan aktivitas dunia. Dengan menuntut ilmu hati kita lebih hidup dan tenang, iman menjadi kuat, pemahaman menjadi terbuka, dan menjadikan hidup lebih terarah karena dibekali dengan ilmu.

Ada dua macam ilmu yang wajib kita cari.
Pertama, ilmu agama. Ilmu agama hukumnya fardhu ‘ain, yaitu kewajiban masing-masing individu dan tidak bisa dibebankan kepada orang lain. Contohnya: tentang sholat, puasa, berbakti kepada orangtua, menutup aurat bagi muslimah, dan masih banyak lagi.
Kedua, ilmu umum. Ilmu umum hukumnya fardhu kifayah, yaitu kewajiban semua orang tapi jika sudah ada sebagian yang melakukan, maka gugur kewajiban bagi yang lainnya. Contoh: ilmu kedokteran, guru, mengurusi jenazah, dan lainnya.

Namun, lagi lagi kesibukan duniawi telah menyingkirkan kewajiban kita sebagai hamba untuk menuntut ilmub Agama, dan lebih mendahulukan Ilmu umum. Padahal, betapa pentingnya ilmu agama, karena jika amal ibadah tanpa ilmu maka akan tersesat, kehilangan ruh, dan mudah terjebak oleh pemahaman keliru.

Maka dari itu Rosulullah saw. pun bersabda bahwa menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim, baik laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Ilmu bukan hanya milik ulama, ilmu kebutuhan bagi setiap hamba yang ingin meraih RidhoNya.

Menuntut ilmu adalah sebuah perjalanan panjang, dan berakhir ketika Allah memanggil kita untuk pulang. Oleh karena itu, menuntut ilmu memerlukan kesabaran, keikhlasan, kerendahan hati, dan niat yang kuat untuk memperbaiki diri.

Para ulama terdahulu rela menghabiskan hidup mereka untuk menempuh perjalanan panjang demi ilmu. Karena mereka sadar bahwa keutamaan hidup terletak pada ilmu yang membimbing amalan.

Ilmu agama bukan sekadar teori, tetapi pedoman untuk melakukan amal dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dengan mempelajari ilmu agama, seseorang tahu mana jalan Allah yang Allah Ridhoi dan mana jalan hawa nafsu dan Allah benci. Dengan ilmu, keluarga menjadi sakinah, masyarakat damai dan  sentiasa melakukan amar ma’ruf nahi munkar, negara pun akan berjalan sesuai dengan fungsinya, yaitu meriayah umat dengan baik. Sehingga tercipta negara yang diberkahi Allah.

Wallahu a’lam.

 

 Oleh : Yayat Rohayati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *